Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PENGEMBANGAN KAPASITAS ANALISIS KRITIS REMAJA SEBAGAI PRASYARAT KEPEMIMPINAN ETIS STUDI INTERVENSI BERBASIS SIMULASI KASUS UNTUK MENCEGAH KENAKALAN Putri Purbasari Raharningtyas Marditia; Asmin Fransiska
Jurnal Serina Abdimas Vol 4 No 1 (2026): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v4i1.37590

Abstract

Juvenile delinquency and social deviance represent complex, multifaceted challenges in the contemporary urban context. These issues, increasingly influenced by phenomena such as digitalization and heightened social pressure, necessitate sophisticated, preventive educational interventions. The primary objective of this Community Service (PkM) activity was to substantially enhance the knowledge, critical thinking capacity, and self-awareness of adolescents regarding the sociological roots and consequential impacts of deviant behavior. This study posits that traditional passive instructional methods are insufficient in fostering lasting behavioral change. Therefore, the activity focused on active, participatory learning methods. The intervention was conducted on June 10, 2025, targeting 78 students from Grades 10 and 11 at SMA Santo Bellarminus, Jakarta. The methodology rigorously combined theoretical presentation via PPT, emotional stimulation through multimedia content, and, crucially, Participatory Case Simulation Analysis. This approach aligns with key principles of Participatory Action Research (PAR), emphasizing collaborative problem-solving. The efficacy was evaluated quantitatively using pre-test and post-test assessments. Quantitative evaluation revealed a statistically significant increase in the average knowledge score, improving from 65.5 to 93.1, marking a remarkable 42.1% gain. Qualitatively, student presentations demonstrated a high capacity for critical analysis, particularly in identifying connections between social strain and digital cultural transmission as core drivers of delinquency. The findings unequivocally support that the simulation-based participatory approach is highly effective in internalizing complex sociological concepts and developing critical analysis skills concerning high-risk behaviors. Sustainable long-term prevention demands continuous, holistic supervision involving both family and school structures. Kenakalan remaja dan perilaku menyimpang sosial merupakan tantangan kompleks dan multidimensi dalam konteks perkotaan kontemporer. Permasalahan ini, yang semakin dipengaruhi oleh fenomena seperti digitalisasi dan tekanan sosial yang meningkat, menuntut intervensi edukatif preventif yang canggih. Tujuan utama kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini adalah untuk meningkatkan secara substansial pengetahuan, kapasitas berpikir kritis, dan kesadaran diri remaja mengenai akar sosiologis dan dampak konsekuensial dari perilaku menyimpang. Studi ini mengasumsikan bahwa metode instruksional pasif tradisional tidak memadai untuk menumbuhkan perubahan perilaku yang langgeng. Oleh karena itu, kegiatan berfokus pada metode pembelajaran aktif dan partisipatif. Intervensi dilaksanakan pada 10 Juni 2025, menyasar 78 siswa Kelas 10 dan 11 di SMA Santo Bellarminus, Jakarta.3 Metodologi pelaksanaan secara ketat menggabungkan pemaparan teoretis melalui PPT, stimulasi emosional melalui konten multimedia, dan yang terpenting, Analisis Simulasi Kasus Partisipatif. Pendekatan ini selaras dengan prinsip-prinsip utama Participatory Action Research (PAR), yang menekankan pada pemecahan masalah secara kolaboratif. Efikasi kegiatan dievaluasi secara kuantitatif menggunakan penilaian pre-test dan post-test. Evaluasi kuantitatif menunjukkan peningkatan yang signifikan secara statistik pada skor pengetahuan rata-rata, meningkat dari 65.5 menjadi 93.1, menandai peningkatan sebesar 42.1%. Secara kualitatif, presentasi siswa menunjukkan kapasitas tinggi untuk analisis kritis, terutama dalam mengidentifikasi hubungan antara ketegangan sosial (social strain) dan transmisi budaya digital sebagai pendorong utama kenakalan. Temuan ini secara tegas mendukung bahwa pendekatan partisipatif berbasis simulasi sangat efektif dalam menginternalisasi konsep sosiologis yang kompleks dan mengembangkan keterampilan analisis kritis terhadap perilaku berisiko tinggi. Pencegahan berkelanjutan dalam jangka panjang menuntut pengawasan holistik yang melibatkan struktur keluarga dan sekolah secara terus-menerus.