Perkembangan motorik halus mendukung keterampilan dasar anak prasekolah. Di Indonesia, 13%–18% anak di bawah lima tahun mengalami masalah pertumbuhan dan perkembangan, termasuk keterlambatan motorik. Pengetahuan ibu merupakan kunci untuk memberikan stimulasi yang tepat, seperti merangkai manik-manik, menggambar, atau bermain konstruktif. Pada tahun 2024, Desa Lamteungoh memiliki angka gangguan motorik halus tertinggi di antara seluruh Puskesmas Lambaro Ingin Jaya, yaitu 35% (17 dari 49 kasus). Penelitian ini mengkaji hubungan antara pengetahuan ibu dan perkembangan motorik halus anak prasekolah di Desa Lamteungoh, Ingin Jaya, Aceh Besar. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif cross-sectional. Sampel terdiri dari 41 ibu anak prasekolah yang dipilih menggunakan total sampling. Pengetahuan ibu dinilai menggunakan kuesioner, dan perkembangan motorik anak dievaluasi menggunakan Denver Developmental Screening Test (DDST). Analisis univariat dan bivariat digunakan untuk menguji uji chi-square (signifikansi: 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan motorik halus yang abnormal lebih sering terjadi pada anak-anak yang ibunya memiliki pengetahuan yang kurang (91,7%) atau cukup (84,6%). Oleh karena itu, perkembangan normal lebih sering terjadi pada anak-anak dari ibu yang memiliki pengetahuan yang baik (56,2%). Kemudian, analisis statistik mengkonfirmasi adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dan perkembangan motorik halus anak (p = 0,009). Hal ini menunjukkan bahwa upaya harus dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan ibu melalui pendidikan dan konseling tentang stimulasi motorik halus untuk mencapai pertumbuhan anak yang optimal.Keywords: Pengetahuan Keibuan, Keterampilan Motorik Halus, Anak Prasekolah