Ihsan Fadillah Putra
Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lampung, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Budaya Populer melalui Algoritma TikTok: Studi Tren "Kicau Mania" dari Indonesia ke Ranah Global Pijar Syiffa Aditama; Muhammad Surya Santoso; Ihsan Fadillah Putra; Rahayu Lestari; Regiana Revilia; Roby Rakhmadi
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 6 No 2 (2026): JUPIN Mei 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.2512

Abstract

Fenomena budaya populer digital di era kontemporer menunjukkan bagaimana TikTok berperan sebagai medium strategis dalam mempercepat difusi budaya lintas negara. Penelitian ini menganalisis tren Kicau Mania sebagai fenomena budaya lokal Indonesia yang memperoleh eksposur global melalui algoritma TikTok dan partisipasi aktif pengguna. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus terhadap tujuh video TikTok dari berbagai negara serta interaksi audiens berupa tayangan, komentar, dan tanda suka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kicau Mania, berakar dari lagu dangdut modern berbahasa Jawa menjadi tren budaya populer digital yang diadaptasi oleh pengguna di berbagai negara. Proses difusi berlangsung melalui reproduksi konten secara masif, kreativitas pengguna, dan dukungan algoritma For Your Page (FYP) yang memperluas jangkauan distribusi konten. Temuan menunjukkan bahwa algoritma TikTok berperan dalam mempercepat viralitas, sementara pengguna TikTok bertindak sebagai aktor non-negara yang mereproduksi dan menyebarluaskan budaya populer digital lintas batas. Dengan menggunakan perspektif difusi budaya yang merujuk pada pemikiran Everett M. Rogers, penelitian ini memperlihatkan bahwa penyebaran budaya berlangsung melalui saluran komunikasi digital yang intensif dan memungkinkan terjadinya adaptasi budaya dalam pelbagai konteks lokal. Media sosial, dalam hal ini TikTok, sekaligus berfungsi sebagai sarana diplomasi budaya digital yang membuka peluang bagi budaya lokal Indonesia untuk memperoleh pengakuan internasional.