Banyak remaja menganggap remeh dismenore (nyeri haid), padahal kondisi yang dibiarkan tanpa penanganan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari akibat ketidakstabilan fisik dan emosional—seperti nyeri perut hebat, emosi labil, hingga kecemasan seksual. Dalam jangka panjang, dismenore yang diabaikan juga berisiko memicu komplikasi serius seperti endometriosis dan kemandulan. Di Poltekkes Kemenkes Malang Kampus 1 Jember, prevalensi dismenore terdiri dari 80% kategori ringan dan 20% sedang. Sementara itu, status anemia mahasiswi tercatat 60% normal, 20% anemia ringan, dan 20% anemia sedang. Penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara status anemia dan tingkat dismenore. Desain penelitian ini menggunakan analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah mahasiswi tingkat 1 Poltekkes Kemenkes Malang Kampus 1 Jember sebanyak 77 orang, dengan sampel sebesar 65 orang yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb). Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman's rank. Responden dengan status anemia normal sebanyak 53 orang (81,5%), anemia ringan 8 orang (12,3%), dan anemia sedang 4 orang (6,2%). Sementara itu, responden yang mengalami dismenore ringan sebanyak 33 orang (50,8%), dismenore sedang 29 orang (44,6%), dan dismenore berat 3 orang (4,6%). Hasil uji korelasi Spearman's rank menunjukkan nilai p-value sebesar 0,066 (> 0,05). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status anemia dan tingkat dismenore. Selain anemia, tingkat dismenore dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti aktivitas olahraga, lama menstruasi, dan kondisi psikologis, sehingga faktor-faktor tersebut juga perlu dicegah atau dimitigasi.