Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Learning and Development dalam Penguatan Kinerja Operator Call Center 110: Studi Kasus Polres Bogor Ananta Brima Yoga; Adi Ageng Rismoko; Gita Sulika Sari
JOM Vol 7 No 2 (2026): Indonesian Journal of Humanities and Social Sciences, June
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/ijhass.v7i2.9237

Abstract

The 110 Call Center Service stands at the frontline of the digital transformation of the Indonesian National Police (Polri) in actualizing responsive public services. High operational workloads subject operators to extreme cognitive pressure and psychological vulnerability. This study aims to analyze the workload dynamics and formulate a human resource development strategy through a Learning and Development (L&D) framework for 110 Call Center operators at the Bogor Police Resort (Polres). A qualitative methode with a case study design was employed. Data were collected through in-depth interviews, non-participant observation, and documentation studies, which were then analyzed using the interactive model by Miles, Huberman, and SaldaƱa. The results indicate that the heterogeneity of reports requires operators to utilize agile thinking, while exposure to secondary trauma triggers emotional exhaustion. Therefore, there is an urgent need to escalate technical capacities (digital application literacy) and strengthen Psychological Capital. This study recommends an evolution of training towards a Learning Organization via experiential learning (crisis simulation), peer-mentoring, and the integration of Psychological First Aid (PFA). The comprehensive implementation of L&D strategies is believed to accelerate the police's digital transformation, enhance public trust, and realize the paradigm of public service excellence.
Transformasi Kompetensi Interpersonal CPNS melalui Experiential Learning: Studi Program Setneg ke Sekolah (SkS) Adi Ageng Rismoko; Raisa Ayu Rininta; Lita Efrianna Br Ginting
Indonesian Journal of Public Administration Review Vol. 3 No. 3 (2026): May
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/par.v3i3.5823

Abstract

Program onboarding aparatur sipil negara pada umumnya masih didominasi oleh pendekatan klasikal yang berorientasi pada aspek kognitif di dalam kelas, sehingga menghadapi tantangan dalam menjembatani antara pemahaman nilai teoretis dan manifestasi perilaku nyata di lapangan. Program Setneg ke Sekolah (SkS) tahun 2025 menawarkan paradigma baru melalui pendekatan off-the-job training berbasis pengabdian masyarakat, dengan menempatkan 386 CPNS Kementerian Sekretariat Negara di 278 sekolah se-Jabodetabek selama tiga minggu. Penelitian evaluatif ini bertujuan secara khusus untuk menganalisis efektivitas Program SkS sebagai instrumen experiential learning, mengidentifikasi mekanisme internalisasi nilai BerAKHLAK, serta memosisikan program ini dalam lanskap global. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi evaluatif dengan desain mixed-method sekuensial-eksplanatori. Integrasi data dilakukan melalui survei sekolah mitra, pelaporan digital Setneg Talent Scorecard (STS), jurnal reflektif mingguan peserta, serta wawancara mendalam terhadap lima CPNS dan dua mentor program. Mengacu pada kerangka teori Kolb (1984), Chalofsky (2014), serta Werner dan DeSimone (2012), hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial di luar ekosistem birokrasi berkontribusi signifikan terhadap pengembangan kompetensi interpersonal, terutama pada aspek komunikasi lintas konteks, kepemimpinan situasional, dan empati sosial. Sebanyak 89,5% sekolah mitra menilai sikap peserta berada pada kategori sangat baik. Keterlibatan emosional secara aktif dalam tugas nyata terbukti mempercepat internalisasi nilai BerAKHLAK melalui mekanisme meaning of work yang didorong oleh tingginya task significance. Selain itu, kualitas mentoring terbukti memoderasi kedalaman transformasi reflektif yang dicapai peserta. Secara komparatif, SkS menunjukkan karakteristik berbeda dengan keunggulan utama pada dimensi keterlibatan komunitas dibandingkan dengan praktik sektor publik di Singapura, Amerika Serikat, dan Inggris. Kesimpulannya, Program SkS efektif memicu transformasi kompetensi interpersonal dan pergeseran identitas profesional dari orientasi administratif konvensional menuju pelayanan publik yang lebih kontekstual.