Lahan dengan kadar nikel rendah seringkali tidak dimanfaatkan meskipun sebenarnya memiliki potensi untuk dikelola dan dimanfaatkan dengan proses phytomining. Proses ini memanfaatkan tumbuhan yang memiliki kemampuan melakukan akumulasi nikel dan telah beradaptasi pada lahan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis keragaman dan nilai Bioconcentration Factor (BCF) tumbuhan herba pada daerah penelitian serta menganalisis potensi dan aplikasi penerapan phytomining pada daerah penelitian. Penelitian dilakukan di wilayah penambangan nikel di Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara. Pengamatan jenis tumbuhan dilakukan pada 12 lokasi pengamatan dan pengambilan sampel dilakukan pada 6 lokasi pengamatan. Sampel yang diambil berupa sampel tumbuhan utuh dan tanah tempat tumbuhnya tumbuhan tersebut. Metode analisis kadar nikel menggunakan Atomic Absorbtion Spectroscopy (AAS) Flame. Sedangkan metode analisis yang digunakan adalah metode matematis yaitu perhitungan nilai BCF dan bioakumulasi. Hasil menunjukkan bahwa ditemukan 9 spesies tumbuhan herba pada daerah penelitian. Potensi phytomining tumbuhan herba berdasarkan nilai BCF adalah rendah hingga sedang (0,02 – 0,28. Spesies dengan nilai BCF tertinggi adalah Pityrogramma calomelanos (L.) sebesar 0,28. Tumbuhan yang memiliki nilai bioakumulasi tertinggi adalah Pityrogramma calomelanos (L.) dengan nilai bioakumulasi nikel sebesar 4,67 x 10 2mg. P. calomelanos memiliki potensi phytomining sebesar 11,66 gram/ha. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tumbuhan herba lokal memiliki potensi untuk mendukung penerapan phytomining yang ramah lingkungan serta dapat berkontribusi dalam strategi rehabilitasi lahan pascatambang nikel secara berkelanjutan.