Perkembangan arsitektur modern di Kota Bandung menunjukkan meningkatnya kebutuhan akan desain bangunan yang tidak hanya memenuhi fungsi dasar, tetapi juga mampu menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dan alam. Kondisi perkotaan yang padat serta keterbatasan ruang terbuka hijau mendorong penerapan pendekatan desain yang dapat meningkatkan kualitas ruang dan kenyamanan pengguna. Arsitektur biofilik muncul sebagai pendekatan yang relevan dengan mengintegrasikan elemen-elemen alami ke dalam lingkungan binaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan konsep desain biofilik kategori Nature in the Space pada bangunan komersial modern di Kota Bandung dengan studi kasus Jardin Café. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung pada bangunan, dokumentasi visual, serta studi literatur terkait teori desain biofilik. Observasi difokuskan pada identifikasi elemen-elemen alami seperti vegetasi, pencahayaan alami, ventilasi silang, hubungan visual dengan alam, serta penggunaan material alami pada area publik. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan hasil observasi lapangan dengan prinsip desain biofilik kategori Nature in the Space. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan konsep tersebut pada Jardin Café tercermin melalui empat pola utama, yaitu visual connection with nature, thermal and airflow variability, dynamic and diffuse light, serta connection with natural systems. Integrasi vegetasi interior, bukaan bangunan yang memungkinkan ventilasi alami, serta penggunaan atap transparan yang memaksimalkan pencahayaan alami menciptakan ruang yang lebih terang, sejuk, dan secara psikologis menenangkan. Temuan ini menunjukkan bahwa desain biofilik dapat menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan kualitas ruang dan kenyamanan pengguna pada bangunan komersial di kawasan perkotaan yang padat.