Bambu merupakan salah satu material lokal yang memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai elemen struktural maupun arsitektural dalam bangunan, khususnya pada konteks iklim tropis yang menuntut adaptasi terhadap kondisi lingkungan. Material ini tidak hanya mudah ditemukan, tetapi juga memiliki sifat fleksibel, ringan, serta ramah lingkungan sehingga semakin relevan dalam pendekatan arsitektur berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis penggunaan variasi olahan bambu pada dua studi kasus, yaitu Rooftop Coffee Dago dan Kabayan 91. Fokus kajian meliputi alasan pemilihan material bambu, teknik pengolahan yang diterapkan, serta bagaimana desain bangunan merespon kondisi iklim dan kebutuhan fungsi ruang. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus, yang dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara dengan pihak terkait, serta analisis terhadap teknik pengolahan material bambu yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua bangunan memanfaatkan berbagai jenis bambu seperti bambu betung, gombong, dan tali, yang diolah menjadi elemen struktural seperti kolom dan rangka atap, serta elemen nonstruktural seperti dinding, lantai, dan penutup atap. Selain itu, teknik pengawetan modern berbasis perendaman kimia diterapkan untuk meningkatkan daya tahan bambu terhadap cuaca dan serangan hama, menggantikan metode tradisional yang cenderung lebih lama dan kurang efektif. Variasi olahan bambu tersebut juga mampu merespon iklim tropis melalui penerapan desain atap tinggi, ventilasi silang yang optimal, serta detail konstruksi dinding yang mempermudah aliran air hujan. Secara keseluruhan, bambu terbukti mampu memberikan nilai fungsional, estetika, dan ekologis apabila diolah dengan teknik yang tepat, sehingga sangat relevan untuk diterapkan pada bangunan tropis modern.