Haryadi Haryadi
Universitas Negeri Semarang, Semarang, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

EFEKTIVITAS KETERAMPILAN MENULIS ESAI DENGAN PENDEKATAN DEEP LEARNING BERBANTUAN GOOGLE DOCS PADA SISWA KELAS XI SMA: EFEKTIVITAS KETERAMPILAN MENULIS ESAI DENGAN PENDEKATAN DEEP LEARNING BERBANTUAN GOOGLE DOCS PADA SISWA KELAS XI SMA Sita Adelia; Haryadi Haryadi; Wati Istanti
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Undiksha Vol. 16 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbsi.v16i1.113857

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas keterampilan menulis esai dengan pendekatan deep learning berbantuan Google Docs pada siswa kelas XI SMA. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterampilan menulis esai siswa yang disebabkan oleh pembelajaran yang masih berpusat pada guru, kurangnya keterlibatan aktif siswa, serta minimnya pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi-experimental design berupa pretest-posttest control group design. Sampel penelitian terdiri atas dua kelas, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Teknik pengumpulan data meliputi tes menulis esai, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui uji normalitas, uji homogenitas, uji paired sample t-test, uji independent sample t-test, serta uji ANCOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan keterampilan menulis esai pada kelas eksperimen dibandingkan kelas kontrol. Nilai rata-rata posttest kelas eksperimen (92,64) lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (70,61). Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, yang berarti terdapat pengaruh signifikan penggunaan pendekatan deep learning berbantuan Google Docs terhadap keterampilan menulis esai siswa. Hasil uji ANCOVA juga memperkuat bahwa perlakuan memiliki pengaruh signifikan dengan kontribusi sebesar 95,3% terhadap hasil belajar. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pendekatan deep learning berbantuan Google Docs efektif dalam meningkatkan keterampilan menulis esai siswa kelas XI SMA.
EFEKTIVITAS MODEL CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) BERBANTUAN SITUS BUDAYA RUMAH BETANG TERHADAP KEMAMPUAN MENULIS TEKS PIDATO PERSUASIF SISWA SMP NEGERI 7 ARUT SELATAN Sarifah Firda Arindita Nafarin; Haryadi Haryadi; Wati Istanti
PRASI Vol. 21 No. 02 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/prasi.v21i02.113701

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas model Contextual Teaching and Learning (CTL) berbantuan situs budaya Rumah Betang terhadap kemampuan menulis teks pidato persuasif siswa kelas VIII SMP Negeri 7 Arut Selatan. Metode yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan desain nonequivalent control group design. Sampel penelitian terdiri atas 28 siswa kelas VIII F sebagai kelas eksperimen dan 28 siswa kelas VIII G sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian berupa tes menulis teks pidato persuasif bertema pelestarian budaya lokal yang dinilai berdasarkan empat aspek yakni isi dan argumen, struktur teks, diksi persuasif, serta keefektifan kalimat. Data dianalisis menggunakan independent sample t-test dan N-Gain score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa t hitung (4,562) lebih besar dari t tabel (2,005) sehingga H₀ ditolak dan H₁ diterima. Rata-rata posttest kelas eksperimen mencapai 74,55 dengan ketuntasan 67,86%, sedangkan kelas kontrol mencapai 59,80 dengan ketuntasan 39,29%. N-Gain kelas eksperimen sebesar 0,52 (kategori sedang) dan kelas kontrol sebesar 0,29 (kategori rendah). Dapat disimpulkan bahwa model CTL berbantuan situs budaya Rumah Betang efektif terhadap kemampuan menulis teks pidato persuasif siswa.
Characteristics of Pre-Service Teacher’s Spoken Language in Teaching Practice: A Systematic Literature Review Ratna Muthia; Subyantoro Subyantoro; Haryadi Haryadi
Proceedings of International Conference on Science, Education, and Technology Vol. 12 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Oral language is an essential component of teachers’ pedagogical competence. As future educators, pre-service teachers need to develop effective oral language skills as part of their teaching practice. This study aims to analyze and synthesize the characteristics of pre-service teachers’ spoken language in teaching practice based on previous research. The study employed a systematic literature review using the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) framework. Articles were identified through searches in Google Scholar, the Education Resources Information Center (ERIC), and Scopus. Following the application of inclusion and exclusion criteria, 17 articles were selected for analysis. The findings indicate several tendencies in pre-service teachers’ spoken language. First, spoken language is predominantly used to manage classroom activities and direct students’ learning through questioning, teacher talk, and directive speech acts. Second, spoken language tends to function as a means of knowledge transmission, as reflected in the prevalence of display questions, factual questions, and Initiation–Response–Evaluation (I-R-E) interaction patterns. Third, the use of language to promote argumentation, negotiation of meaning, and collaborative knowledge construction remains limited. Fourth, pre-service teachers employ code-mixing as a communication strategy to adapt to multilingual classroom contexts. These findings suggest that pre-service teachers have developed the ability to use spoken language for organizing classroom instruction; however, its use in fostering productive academic dialogue still requires further strengthening. This comprehensive overview of the spoken language characteristics of pre-service teachers may serve as a foundation for the development of teacher education programs that place greater emphasis on dialogic learning.