Media tanam pada pembibitan kelapa sawit umumnya adalah tanah alluvial atau latosol. Tanah-tanah tersebut sering memiliki keterbatasan, karena kandungan unsur hara yang rendah, pH masam, serta kapasitas tukar kation yang terbatas. Di sisi lain, abu janjang kosong kelapa sawit merupakan limbah padat hasil pembakaran tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang dihasilkan dalam jumlah besar oleh industri pengolahan kelapa sawit. Limbah ini berpotensi besar sebagai pembenah tanah dan media tanam. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh interaksi abu janjang kosong kelapa sawit dan biochar arang sekam padi terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) pada fase pembibitan awal. Penelitian dilaksanakan bulan Mei-Agustus 2025 di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor, yaitu dosis abu janjang kosong kelapa sawit dan dosis biochar arang sekam padi. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan panjang akar pada umur 5-12 minggu setelah tanam (MST). Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara abu janjang kosong kelapa sawit dan biochar arang sekam padi berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada umur 9 MST, sedangkan pada parameter lainnya tidak menunjukkan pengaruh nyata. Kombinasi perlakuan A0B1 dan A1B0 menghasilkan jumlah daun tertinggi, yaitu 5.00 helai. Perlakuan abu janjang kosong kelapa sawit secara tunggal berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun, sedangkan biochar arang sekam padi secara tunggal tidak berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter pengamatan.