Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Creative Hub dengan Pendekatan Arsitektur Urban di Area TOD Dukuh Atas - Jakarta Selatan Heri Nurfahmi; Dedi Rustandi; Cik Udah; Hendiyanto Hendiyanto
Indo Green Journal Vol. 4 No. 2 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i2.325

Abstract

Perkembangan kota Jakarta yang semakin pesat memunculkan kebutuhan akan ruang kolaborasi yang mampu mewadahi kegiatan masyarakat kreatif sekaligus mendukung konsep kota berkelanjutan. Creative hub dirancang sebagai fasilitas yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat aktivitas kreatif, tetapi juga sebagai ruang publik yang mampu menjadi katalis dalam pembentukan identitas kawasan. Lokasi perancangan dipilih di kawasan Transit Oriented Development (TOD) Dukuh Atas, Jakarta Selatan, karena kawasan ini merupakan simpul transportasi penting yang menghubungkan berbagai moda, sehingga potensial untuk menjadi pusat interaksi masyarakat urban. Metode perancangan yang digunakan meliputi pendekatan kualitatif melalui studi literatur, observasi lapangan, analisis tapak, serta studi komparatif terhadap creative hub di dalam dan luar negeri. Analisis dilakukan dengan menitikberatkan pada aspek integrasi fungsi bangunan dengan konteks perkotaan, jaringan transportasi publik, serta karakter lingkungan eksisting. Pertimbangan khusus juga diberikan pada kondisi tapak yang memiliki elevasi rendah, sehingga solusi teknis berupa penyesuaian elevasi lantai dan pengelolaan ruang terbuka dirumuskan untuk mengantisipasi potensi banjir tanpa mengurangi aksesibilitas dan interaksi publik. Hasil perancangan menunjukkan bahwa Jakarta Creative Hub dengan pendekatan arsitektur urban dapat menjadi pusat kegiatan kreatif yang terintegrasi dengan ruang kota, sistem transportasi, serta lanskap sekitar. Desain yang dihasilkan tidak hanya mendukung aktivitas komunitas kreatif, tetapi juga meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan melalui penyediaan ruang terbuka publik yang inklusif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap kondisi eksisting. Dengan demikian, rancangan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan fasilitas kreatif perkotaan di Jakarta serta menjadi acuan bagi perancangan serupa di kawasan perkotaan lain.
Mixuse Building (Kantor Sewa, Apartemen dan Pusat Gaya Hidup) dengan Pendekatan Arsitektur Ekologi Dikemayoran, Jakarta Pusat Dedi Rustandi; Heri Hermawan
Indo Green Journal Vol. 2 No. 4 (2024): Green 2024
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v2i4.446

Abstract

Arsitektur dapat diartikan sebagai wadah/tempat yang dapat menampung semua aktivitas yang dilakukan oleh manusia, melindungi manusia dari gangguan yang berasal dari faktor eksternal dan dari faktor internal, simbol yang dapat menunjukkan identitas dan status sosial, dan lain sebagainya. Arsitektur adalah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari manusia. Hampir setiap aktivitas yang dilakukan oleh manusia tidak lepas dari arsitektur karena manusia adalah penyebab arsitektur. Arsitektur lahir dari kebutuhan manusia serta kebutuhan akan lingkungan yang kondusif, keamanan, dan kebutuhan untuk mendukung kegiatan yang kemudian diwujudkan dengan cara yang diimbangi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi serta material yang tersedia. Pengembangan bisnis di Jakarta akan berdampak pada peningkatan permintaan dan pemasaran ruang kantor, karena pelaku bisnis akan membutuhkan ruang baru untuk bisnis baru atau ruang yang lebih besar untuk pengembangan bisnis. Melihat perkembangan kebutuhan masyarakat, sangat dibutuhkan bangunan sebagai sarana dan prasarana untuk menunjang kebutuhan tersebut, selain area bisnis dan perkantoran, juga diperlukan kawasan terpadu untuk menunjang kebutuhan perumahan/hunian bagi masyarakat Jakarta. Pariwisata di Jakarta juga perlu ditingkatkan lagi, terutama dari segi budaya yang hampir dilupakan oleh masyarakat lokal dan wisatawan mancanegara serta wisatawan lokal. Selanjutnya, kawasan ini diharapkan dapat saling terhubung dan terintegrasi dengan moda transportasi massal di Jakarta sehingga mudah diakses oleh seluruh penduduk Jakarta.
Creative Hub dengan Pendekatan Arsitektur Urban di Area TOD Dukuh Atas - Jakarta Selatan Heri Nurfahmi; Dedi Rustandi; Cik Udah; Hendiyanto Hendiyanto
Indo Green Journal Vol. 4 No. 2 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i2.325

Abstract

Perkembangan kota Jakarta yang semakin pesat memunculkan kebutuhan akan ruang kolaborasi yang mampu mewadahi kegiatan masyarakat kreatif sekaligus mendukung konsep kota berkelanjutan. Creative hub dirancang sebagai fasilitas yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat aktivitas kreatif, tetapi juga sebagai ruang publik yang mampu menjadi katalis dalam pembentukan identitas kawasan. Lokasi perancangan dipilih di kawasan Transit Oriented Development (TOD) Dukuh Atas, Jakarta Selatan, karena kawasan ini merupakan simpul transportasi penting yang menghubungkan berbagai moda, sehingga potensial untuk menjadi pusat interaksi masyarakat urban. Metode perancangan yang digunakan meliputi pendekatan kualitatif melalui studi literatur, observasi lapangan, analisis tapak, serta studi komparatif terhadap creative hub di dalam dan luar negeri. Analisis dilakukan dengan menitikberatkan pada aspek integrasi fungsi bangunan dengan konteks perkotaan, jaringan transportasi publik, serta karakter lingkungan eksisting. Pertimbangan khusus juga diberikan pada kondisi tapak yang memiliki elevasi rendah, sehingga solusi teknis berupa penyesuaian elevasi lantai dan pengelolaan ruang terbuka dirumuskan untuk mengantisipasi potensi banjir tanpa mengurangi aksesibilitas dan interaksi publik. Hasil perancangan menunjukkan bahwa Jakarta Creative Hub dengan pendekatan arsitektur urban dapat menjadi pusat kegiatan kreatif yang terintegrasi dengan ruang kota, sistem transportasi, serta lanskap sekitar. Desain yang dihasilkan tidak hanya mendukung aktivitas komunitas kreatif, tetapi juga meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan melalui penyediaan ruang terbuka publik yang inklusif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap kondisi eksisting. Dengan demikian, rancangan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan fasilitas kreatif perkotaan di Jakarta serta menjadi acuan bagi perancangan serupa di kawasan perkotaan lain.
Mixuse Building (Kantor Sewa, Apartemen dan Pusat Gaya Hidup) dengan Pendekatan Arsitektur Ekologi Dikemayoran, Jakarta Pusat Dedi Rustandi; Heri Hermawan
Indo Green Journal Vol. 2 No. 4 (2024): Green 2024
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v2i4.446

Abstract

Arsitektur dapat diartikan sebagai wadah/tempat yang dapat menampung semua aktivitas yang dilakukan oleh manusia, melindungi manusia dari gangguan yang berasal dari faktor eksternal dan dari faktor internal, simbol yang dapat menunjukkan identitas dan status sosial, dan lain sebagainya. Arsitektur adalah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari manusia. Hampir setiap aktivitas yang dilakukan oleh manusia tidak lepas dari arsitektur karena manusia adalah penyebab arsitektur. Arsitektur lahir dari kebutuhan manusia serta kebutuhan akan lingkungan yang kondusif, keamanan, dan kebutuhan untuk mendukung kegiatan yang kemudian diwujudkan dengan cara yang diimbangi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi serta material yang tersedia. Pengembangan bisnis di Jakarta akan berdampak pada peningkatan permintaan dan pemasaran ruang kantor, karena pelaku bisnis akan membutuhkan ruang baru untuk bisnis baru atau ruang yang lebih besar untuk pengembangan bisnis. Melihat perkembangan kebutuhan masyarakat, sangat dibutuhkan bangunan sebagai sarana dan prasarana untuk menunjang kebutuhan tersebut, selain area bisnis dan perkantoran, juga diperlukan kawasan terpadu untuk menunjang kebutuhan perumahan/hunian bagi masyarakat Jakarta. Pariwisata di Jakarta juga perlu ditingkatkan lagi, terutama dari segi budaya yang hampir dilupakan oleh masyarakat lokal dan wisatawan mancanegara serta wisatawan lokal. Selanjutnya, kawasan ini diharapkan dapat saling terhubung dan terintegrasi dengan moda transportasi massal di Jakarta sehingga mudah diakses oleh seluruh penduduk Jakarta.