Oky Zakiawati Ningrum
Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ANALISIS RASIONALITAS FARMAKOTERAPI PASCA Percutaneous Coronary Intervention (PCI) PADA PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER DENGAN STENT KORONER DI RUMAH SAKIT DAERAH SAMARINDA Hery Kurniawan; Oky Zakiawati Ningrum; Juliyanti
Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi dan Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51352/jim.v12i1.1000

Abstract

Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan salah satu penyakit kardiovaskular dengan prevalensi tinggi yang menjadi penyebab utama mortalitas di Indonesia maupun secara global. Intervensi medis yang lazim dilakukan pada pasien PJK adalah pemasangan stent melalui prosedur Percutaneous Coronary Intervention (PCI). Pasca tindakan tersebut, pasien memerlukan farmakoterapi jangka panjang guna mencegah restenosis serta komplikasi kardiovaskular lainnya. Penggunaan obat yang tidak sesuai pedoman klinis berpotensi meningkatkan risiko efek samping dan menurunkan luaran terapi, sehingga evaluasi rasionalitas pengobatan menjadi krusial. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik pasien, pola pengobatan, serta rasionalitas farmakoterapi pada pasien PJK dengan stent koroner di Rumah Sakit Daerah di Samarinda. Penelitian dilakukan secara deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medis pasien periode Januari–Desember 2023. Sebanyak 81 pasien memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis berdasarkan empat parameter rasionalitas Kementerian Kesehatan RI, meliputi ketepatan indikasi, ketepatan pemilihan obat, ketepatan dosis, dan ketepatan pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien berjenis kelamin laki-laki dan berusia dewasa (18-59 tahun). Terapi yang paling banyak digunakan adalah kombinasi ticagrelor dengan aspirin serta klopidogrel dengan aspirin sebagai dual antiplatelet therapy (DAPT), diikuti pemberian statin dan obat untuk komorbiditas seperti diabetes melitus dan hipertensi. Analisis rasionalitas menunjukkan ketepatan indikasi, ketepatan dosis, dan ketepatan pasien mencapai 100%, sedangkan ketepatan pemilihan obat sebesar 97,5%.