Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Reinterpretasi Konsep Daulat dan Durhaka dalam Gurindam Dua Belas: Pergeseran Paradigma Kepemimpinan Melayu Klasik Elmustian Elmustian; Hermandra Hermandra; Ika Apriyanti
JURNAL ILMIAH NUSANTARA Vol. 3 No. 3 (2026): Jurnal Ilmiah Nusantara Mei 2026
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jinu.v3i3.9865

Abstract

This research deconstructs the concepts of daulat (sovereignty) and durhaka (treason) within the text of Gurindam Dua Belas by Raja Ali Haji, viewed through the lens of a paradigm shift in Classical Malay leadership. The central problem addressed is the tension between the traditional, sacred-supernatural conception of daulat and the Islamic ethical demands introduced by Raja Ali Haji. Utilizing a sociological hermeneutic method, this study focuses its analysis on the Fifth and Twelfth Articles to dissect the internal transformation of values. These specific articles are selected as they represent the core of leader-people relational ethics and individual moral responsibility. The findings reveal that in Raja Ali Haji’s thought, daulat underwent an Islamization process, evolving into a conditional "ethical legitimacy." Consequently, the concept of durhaka is no longer understood as physical defiance against the personification of the monarch (cult of personality), but rather as a failure to uphold a moral contract when a leader abandons the Sharia. These findings affirm that Gurindam Dua Belas offers a transcendental-constitutional leadership model that remains highly relevant for evaluating the ethical crises in modern leadership today.
PANTANG LARANG KEPEMIMPINAN DALAM ALAM MELAYU Hermandra Hermandra; Elmustian Elmustian; Putri Endang Kemalasari
JURNAL ILMIAH NUSANTARA Vol. 3 No. 3 (2026): Jurnal Ilmiah Nusantara Mei 2026
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jinu.v3i3.9867

Abstract

Pantang larang dalam budaya Melayu merupakan sistem nilai tradisional yang berperan penting dalam mengatur kehidupan sosial, termasuk dalam praktik kepemimpinan. Nilai-nilai tersebut tidak hanya berfungsi sebagai larangan normatif, tetapi juga sebagai mekanisme kultural yang membentuk karakter dan etika pemimpin. Dalam konteks ini, pantang larang menjadi bagian dari proses internalisasi nilai yang berlangsung secara turun-temurun dalam masyarakat Melayu. Kajian ini berfokus pada pemahaman mengenai bentuk, makna, serta fungsi pantang larang dalam kepemimpinan Melayu, terutama dalam kaitannya dengan dinamika kepemimpinan masa kini. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menitikberatkan pada studi kepustakaan, melalui pemanfaatan berbagai sumber seperti buku ilmiah, jurnal, serta karya sastra Melayu klasik.. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan pendekatan analisis isi, dengan tujuan untuk menemukan serta memahami berbagai nilai yang terkandung dalam pantang larang. Hasil kajian menunjukkan bahwa pantang larang dalam kepemimpinan Melayu mencakup dimensi moral, sosial, dan spiritual yang saling terintegrasi. Nilai-nilai seperti keadilan, kebijaksanaan, kesantunan, dan tanggung jawab menjadi fondasi utama dalam membangun kepemimpinan yang berintegritas. Di sisi lain, dalam konteks modern, nilai-nilai tersebut tidak selalu dapat diterapkan secara literal, sehingga memerlukan reinterpretasi yang kontekstual agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, Pantang larang tidak hanya dipahami sebagai warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi sumber nilai etis yang tetap adaptif dalam praktik kepemimpinan masa kini.