M. Mustofah Bisri
Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Diskursus Kekuatan Hukum Fatwa DSN-MUI dalam Yurisprudensi Peradilan Indonesia: Analisis Komparatif dengan Mekanisme Rujukan Wajib Shariah Advisory Council Malaysia M. Mustofah Bisri
Recht Studiosum Law Review Vol. 5 No. 1 (2026): Volume 5 Nomor 1 (Mei - 2026)
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/rslr.v5i1.25212

Abstract

Kekuatan hukum fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) dalam yurisprudensi Indonesia problematis karena tidak adanya mekanisme prosedural yang mengikat hakim. Hal ini berbeda dengan mekanisme rujukan wajib Malaysia berdasarkan Central Bank of Malaysia Act 2009 (Act 701) dan Islamic Financial Services Act 2013 (IFSA 2013). Penelitian hukum normatif dengan pendekatan komparatif dan konseptual ini menganalisis kedudukan fatwa DSN-MUI berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah serta Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/32/PBI/2008 yang mewajibkan positivisasi fatwa ke dalam regulasi sektor, tetapi tidak mengikat hakim secara prosedural. Sebaliknya, Pasal 56 Act 701 mewajibkan pengadilan Malaysia merujuk persoalan syariah kepada Shariah Advisory Council (SAC), dan penetapan SAC bersifat mengikat terhadap pengadilan sebagaimana ditegaskan Mahkamah Persekutuan Malaysia dalam putusan JRI Resources Sdn Bhd v Kuwait Finance House (M) Bhd [2019] 3 MLJ 1. Tantangan utama Indonesia adalah ketiadaan mekanisme rujukan wajib, keterbatasan kapasitas hakim, serta dualisme peradilan agama dan negeri yang melahirkan disparitas putusan. Malaysia justru menghadapi perdebatan konstitusional mengenai batas kewenangan SAC terhadap doktrin pemisahan kekuasaan. Penelitian ini merekomendasikan adopsi limited mandatory reference mechanism bagi Indonesia serta pembentukan mekanisme review terbatas atas penetapan SAC bagi Malaysia.
Diskrepansi Norma Hukum Agraria dalam Penanganan Bencana: Kajian Yuridis Tanah Musnah Akibat Banjir Bandang di Sumatera M. Mustofah Bisri
Jurnal Kajian Hukum Dan Kebijakan Publik | E-ISSN : 3031-8882 Vol. 3 No. 4 (2026): Januari-Februari
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/88srwd72

Abstract

The flash flood disaster that struck Aceh, North Sumatra, and West Sumatra in November-December 2025 resulted in 1,053 fatalities, 572,000 displaced persons, over 100,000 damaged housing units, and 90,601 hectares of affected rice fields. The existing agrarian legal framework has failed to provide adequate legal protection. Articles 27, 34, and 40 of Law Number 5 of 1960 (BAL) stipulate that destroyed land results in the extinguishment of land rights, reinforced by Article 1 paragraph 12 of Government Regulation Number 18 of 2021. Meanwhile, Article 1 paragraph 8 of Ministerial Regulation 17/2016 and Article 1 paragraph 7 of Ministerial Regulation 12/2021 stipulate that emerging land is directly controlled by the state. This normative ambiguity creates legal uncertainty. This study aims to analyze the discrepancy of agrarian legal norms in handling destroyed land and formulate an ideal model reconstruction adaptive to disaster management. This normative legal research employs statutory, conceptual, and comparative law approaches, using primary legal materials including the BAL, Law Number 24 of 2007, Presidential Regulation Number 86 of 2018, Presidential Regulation Number 62 of 2023, and relevant ministerial regulations, analyzed qualitatively and comparatively. The findings reveal discrepancies across three dimensions: normative ambiguity in land legal status, implementation obstacles in re-legalization, land redistribution, and religious assistance fund policies due to complex cross-sector coordination and the absence of standard operating procedures for emergency situations, and limited institutional capacity. This study formulates an ideal model reconstruction through legal status reformulation using the “disaster-affected land” concept, procedural simplification through “emergency land procedures”, and corporate responsibility integration based on the polluter pays principle.