Media sosial telah menjadi ruang publik digital yang memfasilitasi interaksi lintas batas, tetapi juga memunculkan berbagai bentuk konflik antar komunitas pengguna. Penelitian ini bertujuan menganalisis kekerasan berbasis gender yang muncul dalam konflik antara Knetz (Korean netizens) dan SEAblings di platform X yang berawal dari perdebatan mengenai etika fandom pada konser DAY6 di Malaysia dan berkembang menjadi pertarungan identitas kolektif yang melibatkan stereotip budaya, penghinaan regional, serta kekerasan berbasis gender. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka dan perspektif interseksionalitas untuk memahami irisan identitas gender, nasionalitas, dan regionalitas dalam produksi kekerasan digital. Data diperoleh dari berbagai jurnal ilmiah, prosiding, laporan media, dan sumber literatur yang relevan, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik tersebut mereproduksi kekerasan simbolik melalui praktik misogini, pelecehan verbal, body shaming, stereotip gender, dan maskulinitas toksik yang memperkuat relasi kuasa patriarkal di ruang digital. Identitas SEAblings muncul sebagai bentuk solidaritas regional defensif terhadap narasi yang dianggap merendahkan masyarakat Asia Tenggara, sementara algoritma platform X berperan dalam mempercepat polarisasi dan penyebaran ujaran kebencian. Temuan ini menegaskan bahwa ruang digital bukanlah ruang yang sepenuhnya egaliter, melainkan arena reproduksi ketimpangan sosial yang memperlihatkan keterkaitan antara gender, budaya, dan identitas regional dalam dinamika komunikasi digital kontemporer. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian komunikasi digital, studi gender, dan konflik media sosial serta menekankan pentingnya literasi digital dan moderasi platform untuk mencegah normalisasi kekerasan berbasis gender online.