Asnawan
Universitas Alfalah Assuniyyah Kencong Jember

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Rekonsiliasi Tradisi Islam dan Sains Modern M. Abdullah Viki; Maftukhin; M. Ilham Fikron; Sayyid Abdullah; Ach. Taufiq; Asnawan
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 2 (2026): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/cxz0pf38

Abstract

Diskursus mengenai relasi antara tradisi Islam dan sains modern hingga kini masih diwarnai oleh pandangan dikotomis yang memisahkan ilmu agama dan ilmu umum. Sains modern kerap diposisikan sebagai sistem pengetahuan yang netral dan bebas nilai, sementara agama dipahami sebatas ranah spiritual dan ritual. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pentingnya rekonsiliasi antara tradisi Islam dan sains modern sebagai upaya membangun paradigma keilmuan integratif yang berorientasi pada kemanusiaan dan keberlanjutan peradaban. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research), melalui penelaahan kritis terhadap sumber-sumber primer dan sekunder berupa Al-Qur’an, hadis, karya ulama klasik dan kontemporer, serta literatur filsafat dan sains modern. Analisis dilakukan dengan pendekatan epistemologis dan filosofis untuk mengkaji integrasi wahyu (naql), akal (‘aql), dan pengalaman empiris (tajribah) dalam tradisi keilmuan Islam, sekaligus mengkritisi asumsi filosofis sains modern yang cenderung positivistik dan sekular. Hasil kajian menunjukkan bahwa tradisi Islam memiliki kerangka epistemologi yang komprehensif dan terbuka terhadap pengembangan sains, selama tetap berlandaskan nilai etika, spiritualitas, dan tujuan kemaslahatan. Rekonsiliasi ini tidak hanya relevan bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pendidikan Islam yang holistik dan integratif. Dengan demikian, rekonsiliasi tradisi Islam dan sains modern merupakan kontribusi strategis bagi peradaban global dalam merespons krisis modernitas yang bersifat materialistik dan dehumanistik. Abstrak Discourse on the relationship between Islamic tradition and modern science remains characterized by a dichotomous view that separates religious knowledge from general knowledge. Modern science is often positioned as a neutral and value-free system of knowledge, while religion is understood solely as a spiritual and ritualistic realm. This article aims to analyze the importance of reconciling Islamic tradition and modern science as an effort to build an integrative scientific paradigm oriented toward humanity and the sustainability of civilization. This research uses a qualitative approach with library research methods, through a critical review of primary and secondary sources, including the Quran, hadith, works of classical and contemporary scholars, and modern philosophical and scientific literature. The analysis utilizes an epistemological and philosophical approach to examine the integration of revelation (naql), reason (‘aql), and empirical experience (tajribah) within the Islamic scientific tradition, while simultaneously critiquing the philosophical assumptions of modern science, which tend to be positivistic and secular. The results demonstrate that the Islamic tradition possesses a comprehensive epistemological framework that is open to the development of science, as long as it remains grounded in ethical values, spirituality, and the goal of public welfare. This reconciliation is not only relevant for the development of science but also serves as a crucial foundation for building a holistic and integrative Islamic education system. Thus, the reconciliation of Islamic tradition and modern science is a strategic contribution to global civilization in responding to the materialistic and dehumanizing crises of modernity.
Integrasi Agama Dan Sains Di PTKIN : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Muhammad Tis Atus Sobirin; Abdus Salam; Asnawan
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 2 (2026): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/sfatsm54

Abstract

The integration of religion and science is a strategic agenda in the development of State Islamic Religious Higher Education Institutions (PTKIN) as a response to the scientific dichotomy that separates Islamic and modern sciences. This article aims to examine the concept, implementation, and significance of the integration of religion and science at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, one of the pioneering PTKINs in developing an integrative scientific paradigm. This research uses a qualitative approach with a case study. Data were obtained through in-depth interviews, observations, and documentation studies, then analyzed using the Miles and Huberman interactive data analysis model. The results indicate that UIN Sunan Kalijaga has developed an integration-interconnection paradigm that places religion and science in a dialogical and complementary relationship. Religion is positioned as a source of values, ethics, and moral orientation, while science plays a role as a rational-empirical instrument in understanding and responding to social realities and global challenges. The implementation of the integration of religion and science is reflected in curriculum design, the development of multidisciplinary study programs, interdisciplinary research, and an open and critical academic culture. Despite facing several challenges, such as differing scientific paradigms and a tendency toward formalization, the integration model developed by UIN Sunan Kalijaga demonstrates significant potential for building inclusive, critical, and transformative Islamic scholarship. The integration of religion and science at UIN Sunan Kalijaga not only strengthens the Islamic identity of PTKIN but also enhances its contribution to global scientific discourse and the pursuit of Islamic higher education that is relevant to the demands of the times and oriented toward the welfare of civilization. Abstrak Integrasi agama dan sains merupakan agenda strategis dalam pengembangan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) sebagai respons atas dikotomi keilmuan yang memisahkan ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu modern. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep, implementasi, serta signifikansi integrasi agama dan sains di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai salah satu PTKIN pelopor dalam pengembangan paradigma keilmuan integratif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis data interaktif Miles dan Huberman. Hasil kajian menunjukkan bahwa UIN Sunan Kalijaga mengembangkan paradigma integrasi-interkoneksi yang menempatkan agama dan sains dalam relasi dialogis dan saling melengkapi. Agama diposisikan sebagai sumber nilai, etika, dan orientasi moral, sementara sains berperan sebagai instrumen rasional-empiris dalam memahami dan merespons realitas sosial serta tantangan global. Implementasi integrasi agama dan sains tercermin dalam desain kurikulum, pengembangan program studi multidisipliner, riset interdisipliner, serta budaya akademik yang terbuka dan kritis. Meskipun menghadapi sejumlah tantangan, seperti perbedaan paradigma keilmuan dan kecenderungan formalisasi integrasi, model integrasi yang dikembangkan UIN Sunan Kalijaga menunjukkan potensi besar dalam membangun keilmuan Islam yang inklusif, kritis, dan transformatif. Integrasi agama dan sains di UIN Sunan Kalijaga tidak hanya memperkuat identitas keislaman PTKIN, tetapi juga meningkatkan kontribusinya dalam percakapan keilmuan global serta upaya menghadirkan pendidikan tinggi Islam yang relevan dengan tuntutan zaman dan berorientasi pada kemaslahatan peradaban.