Early childhood is a critical golden period for development; however, children experiencing neurodevelopmental delays often face late diagnosis and limited access to traditional face-to-face rehabilitation, particularly in low-resource settings like Nepal. This qualitative study employs a narrative interpretative approach to explore the potential of Generative Artificial Intelligence (AI) in supporting early childhood development and rehabilitation. Data were gathered through semi-structured interviews, classroom observations, and interactive workshops with a purposively sampled group of teachers, parents, and therapists. The thematic analysis reveals that Generative AI offers transformative opportunities across five core domains: acting as a patient digital conversational partner to boost speech and language skills ; transforming physical exercises into playful experiences using motion-based games and augmented reality (AR) ; facilitating adaptive cognitive growth through real-time adjusted problem-solving challenges ; coaching socio-emotional learning via safe virtual role-playing scenarios ; and breaking distance barriers through home-based tele-rehabilitation platforms. Nevertheless, stakeholders express vital ethical and practical concerns, including child data privacy risks, the dangerous impact of systemic inaccuracies, digital divides driven by limited hardware access, and the risk of reducing essential human touch. This study concludes that technology must never substitute human warmth, empathy, or love; instead, AI should complement human efforts under a "shared caregiving" model controlled by adults. The implications highlight the urgent need to equip educators with leadership skills, empower parents as co-creators of learning environments, and establish rigorous ethical and policy frameworks to ensure AI deployment remains safe, equitable, and child-centered. [Masa anak usia dini merupakan periode emas yang krusial bagi perkembangan anak , namun anak-anak dengan gangguan neuroperkembangan sering kali menghadapi keterlambatan diagnosis dan keterbatasan akses terhadap rehabilitasi konvensional berbasis tatap muka, khususnya di wilayah dengan sumber daya terbatas seperti Nepal. Penelitian kualitatif dengan pendekatan naratif interpretatif ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) Generatif dalam mendukung perkembangan dan rehabilitasi anak usia dini. Data dikumpulkan melalui wawancara semistruktur, observasi kelas, dan lokakarya interaktif yang melibatkan guru, orang tua, dan terapis melalui teknik purposive sampling. Hasil analisis tematik menunjukkan bahwa AI Generatif menawarkan peluang besar pada lima domain utama: bertindak sebagai mitra bicara digital yang sabar untuk mendukung kemampuan bahasa ; mentransformasi terapi fisik menjadi permainan interaktif berbasis sensor gerak dan augmented reality (AR) ; memfasilitasi stimulasi kognitif adaptif melalui teka-teki yang menyesuaikan kemampuan anak secara real-time ; melatih aspek sosio-emosional lewat skenario bermain peran virtual yang aman ; serta memperluas jangkauan tele-rehabilitasi bagi keluarga di area terpencil. Kendati demikian, antusiasme ini dibayangi oleh tantangan etis dan praktis yang signifikan, termasuk masalah kerahasiaan data anak , risiko ketidakakuratan output sistem , kesenjangan digital akibat keterbatasan perangkat , serta kekhawatiran berkurangnya interaksi manusia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa AI Generatif tidak boleh menggantikan hubungan emosional, melainkan harus diposisikan sebagai komplemen (shared caregiving) di bawah pengawasan orang dewasa. Implikasi penelitian menekankan urgensi pelatihan kepemimpinan bagi pendidik , pelibatan aktif orang tua sebagai mitra ko-kreator , dan perumusan kebijakan yang mendukung pemanfaatan teknologi secara inklusif, aman, dan tepat sasaran.]