Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Urgensi Literasi Keuangan Digital sebagai Upaya Melindungi Komunitas Urban dari Penipuan Online Zulaikha Zulaikha; Farida Farida; Sri Astutik; Nur’annafi Farni Syam Maella; Nur Handayanti
Journal of Indonesian Society Empowerment Vol. 4 No. 1 (2026): June
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/jise.v4i1.379

Abstract

The shift toward digital payments via e-wallets, QRIS, marketplaces, and app-based financial services has made transactions more convenient for urban residents, but it has also increased the risk of online fraud. This community service initiative aims to improve the digital financial literacy of residents in RT 02 RW 04, Nginden Jangkungan Village, Sukolilo Subdistrict, Surabaya, particularly in recognizing, avoiding, and reporting digital transaction-based fraud schemes. The program was implemented using a community-based participatory education approach through needs assessment, face-to-face literacy sessions, case discussions, fraud scheme simulations, and one-month online mentoring. Initial findings indicate that residents actively use digital services but have a limited understanding of transaction security, including OTP/PIN protection, two-step verification, QRIS/e-wallet verification, fake links, and reporting procedures. Common scams identified include fake prizes, digital invitation links, fictitious online shopping, illegal online loans, love scams, and fake accounts. Evaluation results show a 33.3% increase in knowledge, a 36.0% improvement in the ability to recognize scams and report them, and a 42.2% increase in understanding of the safe use of QRIS/e-wallets. This program also established an initial consultation mechanism through neighborhood units (RTs) as a community-based protection effort. Transformasi pembayaran digital melalui e-wallet, QRIS, marketplace, dan layanan keuangan berbasis aplikasi meningkatkan kemudahan transaksi masyarakat urban, tetapi juga memperbesar risiko penipuan online. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan literasi keuangan digital warga RT 02 RW 04 Kelurahan Nginden Jangkungan, Kecamatan Sukolilo, Surabaya, khususnya dalam mengenali, menghindari, dan melaporkan modus penipuan berbasis transaksi digital. Program dilaksanakan dengan pendekatan edukasi partisipatif berbasis komunitas melalui identifikasi kebutuhan, literasi tatap muka, diskusi kasus, simulasi modus penipuan, dan pendampingan daring selama satu bulan. Temuan awal menunjukkan warga aktif menggunakan layanan digital, tetapi masih lemah dalam memahami keamanan transaksi, seperti perlindungan OTP/PIN, verifikasi dua langkah, pengecekan QRIS/e-wallet, tautan palsu, dan prosedur pelaporan. Modus yang banyak ditemukan meliputi hadiah palsu, tautan undangan digital, belanja online fiktif, pinjaman online ilegal, love scam, dan akun palsu. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan sebesar 33,3%, kemampuan mengenali modus dan pelaporan sebesar 36,0%, serta pemahaman penggunaan QRIS/e-wallet secara aman sebesar 42,2%. Program ini juga membentuk mekanisme konsultasi awal melalui perangkat RT sebagai upaya perlindungan berbasis komunitas.
Antara Social Proof dan Functional Trust: Studi Komparatif Perilaku Konsumsi Homeless Media dan Media Pers di Instagram Arsenius Bimo Kristianto; Zulaikha Zulaikha
Journal of Communication Research Vol. 2 No. 2 (2026)
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/jcr.v2i2.488

Abstract

This study analyzes differences in media consumption behavior, content acceptance, and audience participation patterns between homeless media and press media on Instagram. Employing a qualitative netnographic approach, data were gathered through non-participatory observation and screenshot documentation of caption texts, comments, and user replies across four sample accounts (Detikcom, Radar Surabaya, Folkative, and Sekitarsurabaya.id) during December 2024. The findings reveal significant distinctions across three key dimensions. First, regarding production logic, national press media (Detikcom) prioritized high posting volume for mechanical distribution, whereas local homeless media (Sekitarsurabaya.id) leveraged cross-community joint posts to build communitarian credibility. Second, press media caption anatomy drove layered consumption by redirecting audiences to external websites, whereas homeless media fostered organic discursive consumption within comment sections relying on social proof. Third, comment dynamics in press media were predominantly cognitive-evaluative (rational critiques based on functional trust), whereas homeless media established affective publics that served as spaces for emotional catharsis, amplified by flexible and interactive admin responses. These results demonstrate a functional division in digital media, where mainstream press is consumed for cognitive credibility, while homeless media fulfills needs for affective expression and communal bonding. Penelitian ini menganalisis perbedaan perilaku konsumsi media, penerimaan konten, dan pola partisipasi audiens antara homeless media dan media pers di platform Instagram. Pendekatan kualitatif netnografi digunakan melalui observasi non-partisipatif dan dokumentasi tangkap layar (screenshot) terhadap teks caption, komentar, dan balasan (replies) pada empat akun sampel (Detikcom, Radar Surabaya, Folkative, dan Sekitarsurabaya.id) selama periode Desember 2024. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan signifikan pada tiga aspek utama. Pertama, dari logika produksi, media pers nasional (Detikcom) mengutamakan kuantitas unggahan untuk distribusi mekanis, sedangkan homeless media lokal (Sekitarsurabaya.id) mengandalkan kolaborasi lintas komunitas (joint post) guna membangun kredibilitas komunitarian. Kedua, anatomi caption media pers memicu pola konsumsi berlapis (layered consumption) dengan mengarahkan audiens ke situs web resmi, sementara homeless media memicu konsumsi diskursif di kolom komentar berbasis validasi sosial (social proof). Ketiga, interaksi di kolom komentar media pers bersifat kognitif-evaluatif (didominasi kritik faktual atas dasar functional trust), sedangkan homeless media berhasil membentuk publik emosional (affective publics) yang menjadikan kolom komentar sebagai ruang katarsis massal, diperkuat oleh respons admin yang aktif dan personal. Temuan ini mengindikasikan adanya pembagian fungsi media digital, di mana media pers diakses untuk validasi kredibilitas kognitif, sedangkan homeless media dimanfaatkan untuk ekspresi afektif dan koneksi komunal.