Baitul Hikmah merupakan institusi kunci yang menjadi pusat gravitasi intelektual dunia pada masa Kekhalifahan Abbasiyah. Penelitian ini bertujuan untuk membedah peran strategis Baitul Hikmah dalam proses transmisi ilmu pengetahuan dari dunia Islam ke Eropa serta dampaknya terhadap perkembangan peradaban Barat. Menggunakan metode sejarah kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis, penelitian ini melacak jalur perpindahan ilmu pengetahuan melalui kegiatan penerjemahan naskah, inovasi saintifik, dan pertukaran budaya di wilayah perbatasan seperti Andalusia dan Sisilia. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Baitul Hikmah berperan sebagai jembatan peradaban melalui tiga fungsi utama. Pertama, sebagai pusat preservasi karya filsafat dan sains kuno (Yunani, Persia, dan India) yang telah disempurnakan dengan metodologi Islam. Kedua, sebagai produsen karya orisinal dalam bidang matematika, astronomi, dan kedokteran yang menjadi fondasi kurikulum universitas-universitas pertama di Eropa. Ketiga, sebagai pemicu gerakan rasionalisme di Barat; melalui terjemahan karya-karya dari bahasa Arab ke bahasa Latin, masyarakat Eropa mulai mengenal logika Aristotelian dan metode eksperimental yang dikembangkan ilmuwan Muslim. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa kontribusi Baitul Hikmah terhadap Eropa bukan sekadar transfer teks, melainkan transfer paradigma berpikir yang kelak memicu era Renaisans. Islam melalui Baitul Hikmah berhasil mengintegrasikan iman dan rasio, sebuah model yang kemudian ditiru oleh intelektual Eropa untuk keluar dari Zaman Kegelapan (Dark Ages). Penelitian ini merekomendasikan pentingnya meninjau kembali sejarah sains global untuk mengakui peran krusial peradaban Islam sebagai basis kemajuan modernitas Barat.