Muh Akbar Kurniawan
Universitas Ma'arif Nahdlatul Ulama Kebumen

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Gaya Bahasa dan Konstruksi Makna Ambang Kematian dalam Lirik Lagu “Menuju Temaram” Karya Superman Is Dead: Kajian Stilistika: Language Style and the Construction of the Meaning of the Threshold of Death in the Lyrics of Menuju Temaram by Superman Is Dead: A Stylistic Study Siti Magfiroh; Muh Akbar Kurniawan
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 3 (2026): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i3.2776

Abstract

Kajian stilistika terhadap lirik lagu populer penting dilakukan karena lirik tidak hanya bekerja sebagai teks hiburan, tetapi juga sebagai ruang artikulasi pengalaman batin, kritik sosial, dan refleksi eksistensial. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk gaya bahasa dalam lirik lagu “Menuju Temaram” karya Superman Is Dead serta menjelaskan fungsi gaya bahasa tersebut dalam membangun makna lagu. Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan pendekatan stilistika. Data berupa satuan lingual dalam lirik lagu yang mengandung majas, sedangkan sumber data adalah teks lirik lagu “Menuju Temaram” yang dianalisis melalui teknik simak, baca, catat, pengodean, klasifikasi, dan analisis isi. Instrumen penelitian berupa kartu data yang memuat kode data, satuan lingual, kategori majas, indikator kebahasaan, dan fungsi semantis. Hasil penelitian menunjukkan dua belas satuan data yang terkategori ke dalam tiga jenis majas dominan, yaitu personifikasi, metafora, dan hiperbola. Personifikasi muncul melalui penghidupan unsur ruang, gerak, aroma, dan waktu; metafora tampak pada citra tubuh, bunga, batin, kerapuhan, dan mimpi; sedangkan hiperbola digunakan untuk memperkuat intensitas rasa sakit, kehilangan, dan idealisasi figur yang dicintai. Pembahasan menunjukkan bahwa ketiga majas tersebut membangun makna temaram sebagai ruang ambang antara hidup dan mati, penyesalan dan harapan pengampunan, serta keterbatasan manusia ketika berhadapan dengan akhir kehidupan. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian stilistika lirik lagu populer Indonesia, khususnya dengan menunjukkan bahwa gaya bahasa dalam lirik punk rock dapat dibaca sebagai mekanisme estetik sekaligus semantis yang mengorganisasi pengalaman religius, emosional, dan eksistensial.