Fakhrul Rijal
Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah (STIS) Nahdlatul Ulama, Aceh, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

REVITALISASI KEARIFAN LOKAL DALAM MENEGUHKAN MODERASI BERAGAMA DI ACEH SINGKIL Fakhrul Rijal; Nurma Dewi
AR-RA'YU : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AR-RA'YU : Jurnal Hukum Keluarga
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Syari'ah (STIS) Nahdlatul Ulama Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55721/x28wpt53

Abstract

Masyarakat Kristen di Singkil mayoritas berasal dari suku Pakpak. Ada yang mengatakan, bahwa suku Singkil yang ada di Singkil-Subulussalam juga bagian dari suku Pakpak yang pada masa lalu hijrah ke Singkil dan dikenal dengan nama Pakpak Boang (Lister Berutu, dan Nurbani Padang, 2017). Salah satu argumennya karena adanya kesamaan bahasa dan marga. Tapi mayoritas orang Singkil berpendapat bahwa Suku Singkil adalah Singkil dan berbeda dengan Pakpak. Adapun kemiripan bahasa dan marga karena suku Singkil dan Pakpak merupakan satu rumpun yang sama-sama migrasi ke Indonesia dari teluk Martaban (Muadz Vohry, 2013). Terlepas dari perbedaan pendapat itu, ada hal penting yang harus diungkap dan diperbesar, yakni kemiripan marga dan bahasa. Dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang Singkil yang bukan penutur bahasa Pakpak dapat berkomunikasi dengan baik menggunakan bahasa Pakpak. Selain itu, orang adanya marga yang sama dapat dikaitkan pada kesamaan nenek moyang melalui pembahasan silsilah (Terombo). Ketika peristiwa 2001 terjadi, Pemerintah Daerah segera melakukan upaya pencegahan sehingga keributan tidak sempat terjadi. Bupati Aceh Singkil saat itu, alm. Makmur Syahputra melakukan komunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat kedua belah pihak. Banyak yang percaya, salah satu faktor pendukung keberhasilan Makmur Syahputra mencegah konflik 2001 adalah karena pendekatan marga dan bahasa yang dilakukan dimana beliau sendiri merupakan Suku Pakpak bermarga Bancin. Bila kita gali lebih jauh, sangat mungkin ada hal-hal lain yang bisa diangkat ke permukaan dan dijadikan perekat persatuan dan kerukunan, sehingga dapat memperkecil perbedaan dan mengedepankan persamaan. Hanya saja belum dikaji secara serius.