Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Uji Imunohistokimia Postmortem Pada Kematian Jantung Mendadak Salma Adinda Hermawan; Susianti; Wiwi Febriani; Waluyo Rudiyanto
Medula Vol 16 No 2 (2026): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v16i2.1713

Abstract

Routine forensic examinations often fail to establish a definitive diagnosis, particularly in cases of rapid death where no clear macroscopic or microscopic abnormalities are identified. Immunohistochemistry (IHC) is a laboratory technique used to detect the presence and distribution of specific antigens in tissues through antigen–antibody binding combined with specific staining systems. This narrative review discusses the role of postmortem immunohistochemical testing in the evaluation of sudden cardiac death, including examination principles and procedures, forensic applications, relevant immunohistochemical markers, and the influence of the postmortem interval on result interpretation. A literature search was conducted using the PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar databases, covering publications from 2016 to 2025. The reviewed studies indicate that postmortem IHC plays a broad role, particularly in cases involving toxic substances, and assists in establishing diagnoses that cannot be determined through routine examinations. Moreover, markers such as troponin, C5b-9, desmin, H-FABP, and CD68 demonstrate diagnostic value in identifying myocardial injury, tissue necrosis, inflammatory processes, and atherosclerotic plaque formation. However, the reliability of IHC findings is influenced by technical factors, including the interval between death and tissue sampling, tissue fixation methods, and variations in laboratory protocols. Therefore, the use of an integrated immunohistochemical marker panel combined with macroscopic findings, conventional histopathology, and clinical data is recommended within the diagnostic workflow of sudden cardiac death. In Indonesia, the implementation of postmortem IHC remains limited; nevertheless, it holds significant potential as a diagnostic adjunct when applied selectively and in a standardized manner within forensic practice.
IMPLEMENTASI EDUKASI SADARI UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN IBU TENTANG DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA DI POSYANDU Suryani Agustina Daulay; Hesti Yuningrum; Wiwi Febriani; Shifa Azzahra
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 11 No. 1 (2026): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v11i1.3851

Abstract

Kanker payudara merupakan salah satu masalah kesehatan utama pada perempuan yang masih memiliki angka kejadian dan kematian yang tinggi di Indonesia. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai faktor risiko, tanda dan gejala, serta pentingnya deteksi dini menyebabkan banyak kasus ditemukan pada stadium lanjut. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran wanita usia subur mengenai deteksi dini dan pencegahan kanker payudara melalui edukasi kesehatan di Posyandu Bangau, Desa Way Hui, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan kesehatan menggunakan media leaflet dan poster, demonstrasi pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), diskusi interaktif, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Sasaran kegiatan adalah 30 wanita usia subur yang mengikuti kegiatan posyandu. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah diberikan edukasi, ditandai dengan peningkatan nilai rata-rata dari 80 pada pre-test menjadi 100 pada post-test atau meningkat sebesar 25%. Selain itu, peserta mampu menjelaskan kembali langkah-langkah SADARI dengan benar dan menunjukkan sikap positif untuk menerapkan pemeriksaan payudara secara rutin setiap bulan. Kegiatan penyuluhan berlangsung dengan baik, ditunjukkan oleh antusiasme dan partisipasi aktif peserta selama sesi edukasi dan praktik.