The Islamic banking sector in Indonesia is a vital part of the country's growing financial system. As the country with the largest Muslim population, Indonesia has vast market potential. However, public participation is still below par compared to conventional banks. This gap suggests deeper factors beyond the technical side that influence public perception, particularly the strong influence of cultural values and belief systems in daily life. Indonesians tend to base their decisions on traditions, social customs, and religious principles. In this context, Islamic banks are seen not only as venues for economic transactions but also as institutions that must align with the moral and spiritual identities of their users. A lack of widespread understanding of the principle of profit-sharing and the prohibition of usury (riba) often creates doubts among communities with strong religious values. This study used qualitative methods with a descriptive analysis approach to explore this relationship. The results concluded that interest in Islamic banks is driven more by alignment with cultural identity and religious beliefs than simply material gain. However, this potential is hampered by a still-low technical understanding. Therefore, it is recommended that future researchers examine local cultural uniqueness more specifically. For banking practitioners, it is recommended to switch to a marketing strategy based on local wisdom to strengthen emotional closeness with the local community so that Islamic banking is more easily accepted widely. Abstrak Sektor perbankan syariah di Indonesia merupakan bagian penting dari sistem keuangan nasional yang terus tumbuh. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, Indonesia memiliki potensi pasar luas. Namun, tingkat partisipasi masyarakat belum optimal dibandingkan bank konvensional. Kesenjangan ini menunjukkan adanya faktor mendalam di luar sisi teknis yang memengaruhi persepsi masyarakat, terutama kuatnya pengaruh nilai budaya dan sistem kepercayaan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat Indonesia cenderung mengambil keputusan berdasarkan tradisi, kebiasaan sosial, dan prinsip religi. Dalam konteks ini, bank syariah tidak hanya dilihat sebagai tempat transaksi ekonomi, tetapi juga lembaga yang harus selaras dengan identitas moral dan spiritual penggunanya. Kurangnya pemahaman merata mengenai prinsip bagi hasil dan larangan riba sering kali menciptakan keraguan bagi masyarakat yang memiliki nilai religi kuat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif untuk mendalami hubungan tersebut. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa minat pada bank syariah lebih didorong oleh keselarasan identitas budaya dan keyakinan religi daripada sekadar keuntungan materi. Namun, potensi ini terhambat oleh pemahaman teknis yang masih rendah. Oleh karena itu, disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk mengkaji keunikan budaya lokal secara lebih spesifik. Bagi praktisi perbankan, disarankan beralih ke strategi pemasaran berbasis kearifan lokal atau local wisdom guna memperkuat kedekatan emosional dengan masyarakat setempat agar perbankan syariah lebih mudah diterima secara luas.