Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pengaruh Faktor Sosial Budaya Terhadap Pemanfaatan Keluarga di RT XII Kelurahan Kasongan Lama Kecamatan Hilir Kabupaten Katingan: The Influence of Sociocultural the Utilization of Household Latrines in RT XII Kasongan Lama Subdistrict Katingan Hilir District Katingan Regency Eva Prilelli Baringbing
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v12i1.12821

Abstract

Meskipun sebagian besar rumah tangga di RT XII Kelurahan Kasongan Lama telah memiliki jamban keluarga, praktik Buang Air Besar Sembarangan (BABS) masih ditemukan di daerah ini. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti budaya, kebiasaan turun-temurun, dan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sanitasi yang layak. Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatan jamban keluarga di RT XII Kelurahan Kasongan Lama, Kecamatan Katingan Hilir, Kabupaten Katingan. Menggunakan survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 63 kepala keluarga (KK) yang dipilih dengan teknik accidental sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi Square.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyebaran HIV-AIDS pada Komunitas Gay, Biseksual dan Waria di Kota Palangka Raya Delijo Delijo; Eva Prilelli Baringbing; Riska Ovany
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1513

Abstract

Latar Belakang: HIV-AIDS masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius, terutama pada komunitas gay, biseksual, dan waria sebagai populasi kunci yang memiliki risiko lebih tinggi tertular HIV. Pengetahuan, perilaku seksual berisiko, penggunaan kondom, teman sebaya, dan stigma diduga mempengaruhi dengan Penyebaran HIV-AIDS. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terhadap Penyebaran HIV-AIDS pada komunitas Gay, Biseksual dan Waria di Kota Palangka Raya. Metode: Menggunakan kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 68 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Terdapat pengaruh antara pengetahuan (P-value = 0,000 < 0,05), perilaku seksual berisiko (P-value = 0,000 < 0,05), dan stigma (P-value = 0,000 < 0,05) dengan Penyebaran HIV-AIDS. Penggunaan kondom (P-value = 0,715) dan teman sebaya (P-value = 0,841) tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Kesimpulan: Pengetahuan, perilaku seksual berisiko, dan stigma mempengaruhi dengan penyebaran HIV-AIDS, sedangkan penggunaan kondom dan teman sebaya tidak mempengaruhi. Edukasi kesehatan, promosi perilaku seksual yang aman, peningkatan pemeriksaan HIV, konseling, pemberdayaan komunitas, serta pengurangan stigma perlu ditingkatkan untuk mencegah penularan HIV-AIDS dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat berisiko. Penelitian ini diharapkan menjadi dasar bagi PKBI, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah dalam menyusun program pencegahan yang lebih efektif, meningkatkan akses edukasi, skrining, pendampingan, serta pelayanan kesehatan yang ramah bagi populasi kunci sehingga angka Penyebaran HIV-AIDS dapat ditekan secara berkelanjutan melalui kolaborasi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat serta evaluasi program secara berkala dan berkesinambungan.
Hubungan Kebiasaan Konsumsi Minuman Berpemanis Dengan Peningkatan Kadar Glukosa Darah Sewaktu Di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Eka Harap Gusti Aji Mahendra; Eva Prilelli Baringbing; Riska Ovany
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1575

Abstract

Konsumsi minuman berpemanis merupakan sumber gula tambahan yang mudahdiperoleh dan banyak dikonsumsi dewasa muda. Gula dalam bentuk cair diserap dengan cepatsehingga paparan berulang dapat berkaitan dengan perubahan homeostasis glukosa. Bukti lokalmengenai hubungan konsumsi minuman berpemanis dengan kadar glukosa darah sewaktu padamahasiswa Universitas Eka Harap masih terbatas.Tujuan: Menganalisis hubungan kebiasaan konsumsi minuman berpemanis dengan kadarglukosa darah sewaktu pada mahasiswa Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Eka Harap.Metode: Penelitian kuantitatif analitik korelasional ini menggunakan desain cross-sectional.Sebanyak 82 responden diikutsertakan melalui total sampling. Konsumsi 12 jenis minumanberpemanis selama satu bulan terakhir diukur menggunakan Semi-Quantitative Food FrequencyQuestionnaire (SQ-FFQ), sedangkan glukosa darah sewaktu diperiksa menggunakan glukometer.Analisis meliputi analisis univariat, uji normalitas, dan korelasi Rank Spearman.Hasil: Seluruh responden termasuk kategori konsumsi rendah berdasarkan kriteria penelitian.Skor konsumsi memiliki median 23,00, rentang 0–114, dan IQR 40,75. Nilai glukosa darahsewaktu berada pada rentang 73–154 mg/dL dengan rata-rata 106,52 mg/dL; tidak ada respondenmencapai 200 mg/dL. Uji Rank Spearman menunjukkan asosiasi positif yang signifikan dengankekuatan sedang antara skor konsumsi minuman berpemanis dan nilai glukosa darah sewaktu(rho = 0,410; p &lt; 0,001).Kesimpulan: Kebiasaan konsumsi minuman berpemanis berasosiasi positif secara signifikandengan kadar glukosa darah sewaktu. Temuan ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat danmendukung edukasi pembatasan gula serta pemilihan minuman yang lebih sehat di lingkungankampus
Pengaruh Teman Sebaya Dan Status Ekonomi Orang Tua Terhadap Perilaku Merokok Pada Remaja Awal (10-14 Tahun) Di Kelurahan Petuk Bukit Kecamatan Rakumpit Kota Palangka Raya Nadia Yuanari; Eva Prilelli Baringbing; Riska Ovany
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1631

Abstract

Perilaku merokok pada remaja awal masih menjadi masalah kesehatanmasyarakat karena dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, menurunkan kualitas hidup,serta menjadi faktor risiko berbagai penyakit tidak menular di masa mendatang. Perilaku merokokpada remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya pengaruh teman sebaya dan statusekonomi orang tua.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh teman sebaya dan status ekonomi orang tua terhadap perilakumerokok pada remaja awal (10–14 tahun) di Kelurahan Petuk Bukit Kecamatan Rakumpit KotaPalangka RayaMetode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain observasional analitik danpendekatan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 83 remaja awal usia 10–14 tahun denganteknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secaraunivariat serta bivariat menggunakan uji Likelihood Ratio.Hasil: Sebagian besar responden memiliki teman sebaya kategori buruk sebanyak 38 orang(45,8%), status ekonomi orang tua kategori rendah sebanyak 45 orang (54,2%), dan perilakumerokok kategori perokok ringan sebanyak 43 orang (51,8%). Hasil uji Likelihood Ratiomenunjukkan terdapat Pengaruh Teman Sebaya dan Status Ekonomi Orang Tua terhadap PerilakuMerokok Pada Remaja Awal (10-14 Tahun) di Kelurahan Petuk Bukit Kecamatan Rakumpit KotaPalangka Raya dengan masing masing p value 0.000&lt; 0.05.Kesimpulan: Terdapat pengaruh signifikan teman sebaya dan status ekonomi orang tua terhadapperilaku merokok pada remaja awal (10–14 tahun) di Kelurahan Petuk Bukit Kecamatan RakumpitKota Palangka Raya. Remaja awal diharapkan menghindari perilaku merokok. Kelurahan PetukBukit, Puskesmas/Puskesdes, dan sekolah diharapkan meningkatkan upaya promosi kesehatan sertapencegahan perilaku merokok. Puskesmas/Puskesdes diharapkan meningkatkan kegiatan promosikesehatan melalui penyuluhan dan edukasi mengenai bahaya merokok kepada remaja secara rutin,serta bekerja sama dengan sekolah, orang tua, dan pemerintah setempat dalam upaya pencegahanperilaku merokok pada remaja.
Faktor – Faktor Risiko Kejadian Diare Pada Balita Di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kayon Kota Palangka Raya Chana Natalinae; Dita Wasthu Prasida; Eva Prilelli Baringbing
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1501

Abstract

Dita Wasthu Prasida1, Eva Prilelli Baringbing2, Chana Natalinae3 1)2)3)Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Eka Harap Email: chananatalinae4@gmail.com Abstrak Latar Belakang: Diare masih menjadi masalah kesehatan lingkungan sekaligus penyebab utama mortalitas balita di Indonesia, termasuk di Kota Palangka Raya. Di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kayon, jumlah kasus diare pada balita meningkat dari 63 kasus pada tahun 2024 menjadi 93 kasus pada tahun 2025. Tujuan: Menganalisis faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kayon Kota Palangka Raya. Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel sebanyak 82 responden diperoleh menggunakan teknik accidental sampling melalui wawancara terstruktur dan kuesioner tertutup di Puskesmas Induk beserta lima Puskesmas Pembantu (Pustu). Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square (α = 0,05). Hasil: Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara kejadian diare pada balita dengan ketersediaan sumber air bersih (p = 0,017), kepemilikan jamban (p = 0,000), kondisi jamban (p = 0,016), pengelolaan limbah rumah tangga (p = 0,016), PHBS (p = 0,016), dan tingkat pendidikan ibu (p = 0,035). Sebaliknya, tidak ditemukan hubungan bermakna pada pemberian ASI eksklusif (p = 0,136) maupun status gizi balita (p = 0,720). Kesimpulan: Kepemilikan dan kelayakan sanitasi fisik (air bersih, jamban, pengelolaan limbah), PHBS keluarga, serta tingkat pendidikan formal ibu merupakan prediktor kuat kejadian diare pada balita. UPTD Puskesmas Kayon disarankan meningkatkan intensitas edukasi hygiene perorangan dan memantau kelayakan sarana sanitasi dasar secara berkala. Kata kunci: diare; balita; sanitasi; PHBS; faktor risiko Abstract Background: Diarrhea is still an environmental health problem as well as the main cause of mortality among toddlers in Indonesia, including in the city of Palangka Raya. In the work area of the Kayon Health Center UPTD, the number of diarrhea cases in toddlers increased from 63 cases in 2024 to 93 cases in 2025. Objective: To analyze risk factors related to the incidence of diarrhea in toddlers in the work area of the UPTD Kayon Health Center, Palangka Raya City. Methods: Analytical observational research with a cross-sectional design. A sample of 82 respondents was obtained using accidental sampling techniques through structured interviews and closed questionnaires at the Main Health Center and five Auxiliary Health Centers (Pustu). Bivariate analysis used the Chi-Square test (α = 0.05). Results: There was a statistically significant relationship between the incidence of diarrhea in toddlers and the availability of clean water sources (p = 0.017), toilet ownership (p = 0.000), toilet condition (p = 0.016), household waste management (p = 0.016), PHBS (p = 0.016), and maternal education level (p = 0.035). On the other hand, no meaningful relationship was found in exclusive breastfeeding (p = 0.136) or nutritional status of toddlers (p = 0.720). Conclusion: Ownership and feasibility of physical sanitation (clean water, latrines, waste management), family PHBS, and the level of formal education of mothers are strong predictors of the incidence of diarrhea in toddlers. The Kayon Health Center UPTD is recommended to increase the intensity of individual hygiene education and monitor the feasibility of basic sanitation facilities periodically. Keywords: diarrhea; news; sanitation; PHBS; Risk factors