Herman Zuhdi
Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia Jakarta, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Reposisi Otoritas Keagamaan TGH Umar Kelayu di Tengah Perubahan Sosial Masyarakat Sasak Herman Zuhdi
Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya Vol. 4 No. 2 (2026): Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/nagripustaka.v4i2.428

Abstract

Otoritas keagamaan ulama lokal menghadapi tantangan baru seiring modernisasi, ekspansi pendidikan, dan perkembangan teknologi informasi yang mengubah pola relasi masyarakat dengan sumber-sumber legitimasi keagamaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pembentukan, reproduksi, dan reposisi otoritas keagamaan TGH Umar Kelayu dalam masyarakat Sasak. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan orientasi sosiologi agama dan sejarah sosial. Data diperoleh melalui studi dokumen, arsip sejarah, sumber biografis, serta wawancara terbatas dengan tokoh masyarakat yang memahami warisan sosial-keagamaan TGH Umar Kelayu. Analisis dilakukan secara tematik dengan memanfaatkan perspektif Weber, Foucault, dan Geertz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otoritas TGH Umar Kelayu dibangun melalui perpaduan kapasitas keilmuan, pengakuan sosial, keterlibatan dalam kehidupan masyarakat, serta dukungan jaringan pendidikan dan keagamaan. Keberlangsungan pengaruhnya dipertahankan melalui memori kolektif, reproduksi nilai, dan institusionalisasi tradisi keilmuan lintas generasi. Temuan ini menegaskan bahwa modernisasi tidak selalu menyebabkan erosi otoritas keagamaan, tetapi dapat mendorong reposisi bentuk dan mekanisme reproduksi legitimasi dalam masyarakat. Local religious authority faces new challenges as modernization, educational expansion, and digital transformation reshape community relations with sources of religious legitimacy. This study examines the formation, reproduction, and repositioning of the religious authority of TGH Umar Kelayu within Sasak society. Employing a qualitative approach grounded in the sociology of religion and social history, the research draws on historical documents, archival materials, biographical sources, and limited interviews with community figures familiar with TGH Umar Kelayu’s socio-religious legacy. Data were analyzed thematically through the interpretive perspectives of Weber, Foucault, and Geertz. The findings reveal that TGH Umar Kelayu’s authority was constructed through the interplay of religious scholarship, social recognition, community engagement, and educational-religious networks. Its continuity has been sustained through collective memory, value reproduction, and the institutionalization of intellectual traditions across generations. The study demonstrates that modernization does not necessarily erode religious authority; rather, it may facilitate the repositioning of legitimacy through new social, cultural, and institutional mechanisms.
The Utilization of Artificial Intelligence in English Language Learning in the Nahdlatul Wathan Environment Sudiani; Herman Zuhdi; Muhammad Salim
Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 2 (2026): Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/chatra.v4i2.430

Abstract

The rapid development of artificial intelligence has transformed various aspects of education, including English language teaching. This study aims to describe the utilization of artificial intelligence in English language teaching within the Nahdlatul Wathan educational environment, examine teachers’ perceptions of its use, and identify the supporting factors, challenges, and future opportunities associated with its implementation. A qualitative approach with a case study design was employed in three Nahdlatul Wathan secondary schools, namely SMAS NW Pendem, SMK NW Janapria, and MAS NW Lengarak, located in Janapria District, Central Lombok Regency. The participants consisted of three English teachers and two school leaders selected through purposive sampling. Data were collected through semi-structured interviews, observations, and document analysis and were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña. The findings reveal that artificial intelligence is primarily utilized as a supporting tool for developing instructional materials, designing assessments, enhancing vocabulary and grammar instruction, and assisting writing activities. Teachers generally expressed positive perceptions of AI while emphasizing the need for information verification and responsible use. The study suggests that artificial intelligence can support innovation in English language teaching when integrated critically, ethically, and under the guidance of teachers as the primary actors in the educational process.Perkembangan kecerdasan artifisial telah mendorong perubahan dalam berbagai aspek pendidikan, termasuk pembelajaran Bahasa Inggris. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam pembelajaran Bahasa Inggris di lingkungan Nahdlatul Wathan, menganalisis persepsi guru terhadap penggunaannya, serta mengidentifikasi faktor pendukung, penghambat, dan peluang pengembangannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dilakukan pada SMAS NW Pendem, SMK NW Janapria, dan MAS NW Lengarak di Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah. Informan penelitian terdiri atas tiga guru Bahasa Inggris dan dua informan dari unsur pimpinan sekolah yang dipilih secara purposif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan artifisial dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam penyusunan materi, pembuatan evaluasi, pengembangan kosakata dan tata bahasa, serta pendampingan keterampilan menulis. Guru memiliki persepsi yang positif terhadap penggunaan AI, meskipun tetap menyoroti pentingnya verifikasi informasi dan pengawasan terhadap penggunaannya. Temuan ini menegaskan bahwa AI berpotensi mendukung inovasi pembelajaran Bahasa Inggris apabila diintegrasikan secara kritis, etis, dan tetap menempatkan guru sebagai aktor utama dalam proses pendidikan.