Fransiskus Salesius Onggang
Poltekkes Kemenkes Kupang–Jurusan Keperawatan; Jurusan Kebidanan Kupang

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

INTEGRASI KADER KESEHATAN DAN PERAWAT KOMUNITAS DALAM PENCEGAHAN TUBERKULOSIS PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NAIONI, KOTA KUPANG OBT. Liunokas; Fransiskus Salesius Onggang; Hardian Bimanto; Fatima Sagawea; Tri Mryati
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 6 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Latar Belakang: Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Tingkat penularan TB paru yang tinggi dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti rendahnya kesadaran masyarakat, diagnosis yang terlambat, pengobatan yang buruk, kondisi lingkungan yang tidak sehat, dan pendekatan perawatan kesehatan berbasis masyarakat yang kurang optimal. Upaya pengendalian TB paru tidak hanya bergantung pada layanan kuratif di fasilitas kesehatan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat melalui penguatan peran kader kesehatan dan perawat komunitas. Kader kesehatan memiliki ikatan sosial yang erat dengan komunitas atau lingkungan mereka, sehingga memungkinkan mereka untuk bertindak sebagai penghubung antara petugas kesehatan dan keluarga pasien TB. Selain itu, perawat komunitas memiliki kompetensi profesional dalam pendidikan kesehatan, dukungan pasien, dan pengendalian penyakit menular di masyarakat. Tujuan: Menganalisis integrasi kader kesehatan dan perawat komunitas dalam pencegahan TB paru di Puskesmas Naioni, Kota Kupang. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 92 responden yang terdiri dari kader kesehatan, keluarga pasien TB, dan anggota masyarakat yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner terstruktur dan lembar observasi lapangan. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil Studi: menunjukkan bahwa integrasi kader kesehatan dan perawat komunitas berada dalam kategori baik dengan persentase 58,7%. Sebagian besar responden juga memiliki perilaku pencegahan TB paru yang baik dengan persentase 65,2%. Uji statistik menunjukkan hubungan yang signifikan antara integrasi kader kesehatan dan perawat komunitas dengan pencegahan TB paru dengan nilai p 0,001. Pelayanan kesehatan berbasis komunitas yang kolaboratif telah terbukti meningkatkan pendidikan kesehatan, kepatuhan pasien terhadap pengobatan, pelacakan kontak rumah tangga, dan perilaku pencegahan TB di masyarakat. Kesimpulan: Studi ini menyimpulkan bahwa integrasi kader kesehatan dan perawat komunitas memainkan peran penting dalam mendukung pengendalian TB paru berbasis komunitas. Rekomendasi: Penguatan koordinasi program, pelatihan kader kesehatan, dan peningkatan kegiatan pencegahan dan promosi diperlukan untuk lebih meningkatkan efektivitas program TB di tingkat layanan kesehatan primer