Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses komunikasi transendental dalam ritus Khotaman Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah di Pondok Pesantren Suryalaya. Studi ini berfokus pada bagaimana komunikasi antara peserta (sālikin) dengan Tuhan terbentuk dan dialami selama ritual. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode fenomenologis, data dikumpulkan melalui wawancara dan studi pustaka. Temuan penelitian menunjukkan bahwa komunikasi transendental dalam ritual ini difasilitasi melalui serangkaian latihan spiritual (riyādlah) yang terstruktur, termasuk penyucian diri, dzikir, dan kontemplasi di bawah bimbingan seorang guru spiritual (mursyid) atau wakil talqin. Proses ini memungkinkan para sālikin untuk melampaui batasan fisik dan psikologis mereka, yang mengarah pada pengalaman spiritual langsung dan intim (wushūl) dengan Sang Ilahi. Studi ini menyimpulkan bahwa ritus Khotaman berfungsi sebagai medium yang efektif untuk komunikasi transendental, di mana ruang sakral, bimbingan dari mursyid, dan energi spiritual kolektif memungkinkan para sālikin untuk merasakan kehadiran Ilahi dan menerima pencerahan spiritual. Khotaman berfungsi sebagai "service rutin" mingguan yang menyegarkan dan mengonsolidasikan kembali energi spiritual yang mungkin terkotori oleh aktivitas dunia. Sementara Suluk adalah "tune-up" besar dan akselerasi spiritual yang dilakukan secara periodik untuk mencapai lompatan kualitatif dalam perjalanan. Sinergi ini menggambarkan sebuah model komunikasi transendental yang berjenjang: dari yang personal (dzikir harian), diperkuat oleh yang kolektif (Khotaman), dan diintensifkan melalui yang transformatif (Suluk). Melalui rangkaian ritus yang terstruktur inilah TQN Suryalaya tidak hanya mengajarkan teori tentang Tuhan, tetapi membimbing para pengikutnya untuk mengalami komunikasi dan kedekatan dengan-Nya secara langsung, yang pada akhirnya bermuara pada tujuan tertinggi tasawuf: ma'rifatullah.