Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Stigma Boys Don't Cry: Tekanan Sosial dan Kesehatan Mental Mahasiswa Laki-Laki Gabriel Dini; Susana C L Pellu; Imanta I Perangin Angin; Chris S Oiladang
MARAS : Jurnal Penelitian Multidisiplin Vol. 4 No. 2 (2026): MARAS : Jurnal Penelitian Multidisiplin, Juni 2026
Publisher : Lumbung Pare Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60126/maras.v4i2.1638

Abstract

Stigma boys don't cry merupakan bagian dari konstruksi maskulinitas yang menempatkan laki-laki sebagai individu yang harus kuat, mandiri, dan tidak menunjukkan kerentanan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk tekanan sosial yang dialami mahasiswa laki-laki, mengkaji respons mereka terhadap stigma boys don't cry, serta menjelaskan dampaknya terhadap kesehatan mental. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang dilaksanakan di Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nusa Cendana. Informan penelitian berjumlah 8 mahasiswa laki-laki angkatan 2019 yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa menghadapi tekanan sosial berupa tuntutan kemandirian ekonomi, konflik peran sebagai mahasiswa dan pekerja, serta ekspektasi mengenai kelulusan dan masa depan. Dalam merespons stigma boys don't cry, mahasiswa menunjukkan respons adaptif melalui pencarian dukungan sosial dan respons maladaptif berupa pemendaman emosi. Stigma tersebut berdampak pada meningkatnya tekanan sosial, kesulitan mengekspresikan emosi, stres, gangguan konsentrasi, dan beban psikologis. Temuan ini menunjukkan bahwa norma maskulinitas berperan dalam membentuk pengalaman sosial dan kesehatan mental mahasiswa laki-laki.
Peran Tu’a Teno dalam Penyelesaian Sengketa Batas Lahan di Desa Golo Langkok, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai Yuliani Erlin Suryani; Yos E Jelahut; Imanta I Perangin Angin; Lasarus Jehamat
MARAS : Jurnal Penelitian Multidisiplin Vol. 4 No. 3 (2026): MARAS : Jurnal Penelitian Multidisiplin, September 2026
Publisher : Lumbung Pare Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60126/maras.v4i3.1673

Abstract

Sengketa batas lahan merupakan salah satu bentuk konflik agraria yang sering terjadi pada masyarakat pedesaan dan berpotensi mengganggu hubungan sosial masyarakat. Dalam masyarakat adat Manggarai, penyelesaian sengketa batas lahan umumnya dilakukan melalui mekanisme adat dengan melibatkan Tu’a Teno sebagai pemegang otoritas adat dalam bidang pertanahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Tu’a Teno dalam penyelesaian sengketa batas lahan serta mengidentifikasi hambatan yang dihadapi dalam proses penyelesaiannya di Desa Golo Langkok, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Informan penelitian berjumlah lima orang yang terdiri atas tiga Tu’a Teno, satu Kepala Desa, dan satu masyarakat yang pernah terlibat dalam sengketa batas lahan. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tu’a Teno berperan sebagai mediator dan pemimpin musyawarah adat, pengambil keputusan adat dan penentu kembali batas lahan (rahit), serta penjaga harmoni sosial masyarakat. Adapun hambatan yang dihadapi meliputi rendahnya kesadaran masyarakat terhadap batas kepemilikan lahan, hilangnya tanda batas akibat faktor alam, dan adanya tindakan sengaja menggeser batas lahan. Penelitian ini menunjukkan bahwa Tu’a Teno masih memiliki legitimasi sosial yang kuat dalam penyelesaian konflik agraria berbasis adat dan berperan penting dalam menjaga keteraturan sosial masyarakat.