Iswan E.Tawari
ISDIK Kie Raha, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Kearifan Lokal sebagai Fondasi Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Muatan Lokal Sekolah Dasar di Ternate Yetni Marlina; Iswan E.Tawari
Jurnal Pendidikan Dasar Islam Vol. 4 No. 2 (2026): Juni
Publisher : putrapublisher.org

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/jurpendis.v4i2.1792

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari bagaimana kearifan lokal berfungsi sebagai dasar kontekstual untuk pembelajaran ketika menerapkan Kurikulum Merdeka di sekolah dasar. Penelitian ini dilakukan di SDN 14 Kota Ternate, Indonesia; pendekatan kualitatif digunakan untuk mengumpulkan data melalui observasi pembelajaran, wawancara mendalam dengan guru, dan analisis dokumen. Integrasi budaya lokal dalam pembelajaran, praktik instruksional, dan strategi implementasi kurikulum diidentifikasi melalui analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal tidak hanya dianggap sebagai bahan tambahan, tetapi juga berfungsi sebagai fondasi kontekstual yang memengaruhi bagaimana pembelajaran direncanakan dan dilaksanakan. Dalam proses pembelajaran, guru memasukkan pengalaman sosial-budaya peserta didik, seperti adat istiadat masyarakat pesisir, prinsip gotong royong, dan praktik lokal Ternate. Namun demikian, integrasi ini belum sepenuhnya sistematis karena beberapa guru masih menggunakan pendekatan tematik tanpa secara eksplisit mengaitkan konsep akademik dengan struktur nilai budaya lokal. Selain itu, kearifan lokal membantu siswa memahami apa yang mereka pelajari karena membuat hubungan antara ide abstrak dan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Namun, metode ini hanya berfokus pada ilustrasi dan belum sepenuhnya mendorong pemikiran konseptual yang mendalam. Guru juga berperan sebagai mediator utama antara kebutuhan kurikulum dan konteks budaya lokal. Namun, mereka memiliki kapasitas pedagogis yang berbeda, yang berarti bahwa cara mereka menerapkannya berbeda di setiap kelas. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa ada perbedaan antara kurikulum bebas yang idealnya fleksibel dan praktik pembelajaran di lapangan yang lebih cenderung bergantung pada buku teks. Kearifan lokal telah menjadi bagian dari proses pembelajaran. Namun, posisinya saat ini belum berkembang menjadi kerangka pedagogis yang sistemik. Sebaliknya, itu masih dalam proses transisi dari sumber kontekstual menuju fondasi epistemologis pembelajaran.