Abstrak Pemakaman di Indonesia umumnya dipahami sebagai ruang sakral yang senyap, sederhana, dan hanya dikunjungi pada momen ritual tertentu. Namun, keberadaan Puncak Nirwana, sebuah kompleks pemakaman elite di Dusun Ketuwon, Desa Sumberrejo, Pasuruan, Jawa Timur menghadirkan fenomena yang berbeda. Pemakaman ini dibangun dengan infrastruktur yang mewah dan tertata rapi di tengah lingkungan pedesaan agraris, serta dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai ruang sosial dan rekreasi. Penelitian ini mengkaji bagaimana infrastruktur yang mewah mengubah makna pemakaman dari sacred place menjadi leisure space. Penelitian menggunakan metode etnografi melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan warga desa, pekerja pemakaman, serta pengelola Puncak Nirwana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi makna ruang terjadi melalui pengalaman ruang yang dihasilkan oleh desain, estetika, dan pengelolaan infrastruktur pemakaman. Puncak Nirwana diproduksi sebagai ruang bermakna melalui perpaduan nilai budaya Tionghoa, representasi kelas sosial, serta relasi sosial antara yayasan dan warga desa. Meskipun menghadirkan kesenjangan visual dan kepemilikan ruang, pemakaman ini tetap diterima secara pragmatis oleh warga karena manfaat ekonomi dan fungsi sosial yang ditawarkan. Penelitian ini menegaskan bahwa infrastruktur memiliki peran penting dalam membentuk pengalaman, relasi sosial, dan perubahan makna ruang di wilayah pedesaan. Kata Kunci: Puncak Nirwana, pemakaman elite, transformasi ruang, infrastruktur, leisure space Abstract In Indonesia, cemeteries are commonly understood as sacred spaces that are quiet, simple, and visited only during specific ritual moments. However, the presence of Puncak Nirwana, an elite cemetery complex located in Ketuwon Hamlet, Sumberrejo Village, Pasuruan, presents a contrasting phenomenon. This cemetery is developed with luxurious and well-managed infrastructure in the middle of an agrarian rural environment and is actively used by local residents as a social and recreational space. This study examines how luxurious infrastructure transforms the meaning of cemeteries from sacred places into leisure spaces. This research uses ethnographic methods, including field observations and in-depth interviews with village residents, cemetery workers, and the management of Puncak Nirwana. The findings show that the transformation of spatial meaning occurs through spatial experiences shaped by the design, aesthetics, and management of cemetery infrastructure. Puncak Nirwana is produced as a meaningful space through the interplay of Chinese cultural values, class representation, and social relations between the foundation and village residents. Despite the presence of visual and ownership-based inequalities, the cemetery is pragmatically accepted by local residents due to the economic benefits and social functions it provides. This study highlights the important role of infrastructure in shaping experience, social relations, and the transformation of spatial meanings in rural contexts. Keywords: Puncak Nirwana, elite cemetery, spatial transformation, infrastructure, leisure space