Early childhood learning relies on hands-on, game-based interaction. However, as time develops, technological adaptation is demanded. Online learning for Early Childhood Education (PAUD) students has not been widely carried out. This study aims to uncover the challenges and explore the potential of online learning as an alternative solution in learning in the digital era at TKIT An-Najah Jatinom, Klaten Regency, Central Java. The method used is a qualitative descriptive approach, utilizing interviews and documentation. The study's results found that the primary challenge of online learning is children's low literacy skills in language and communication. Lack of enthusiasm in learning because students are required to be independent and concentrated. Limited infrastructure, including inadequate internet access, a lack of digital devices, and low parental involvement due to socioeconomic factors. The strategy to minimize obstacles and maximize potential is designed to utilize interactive digital media, integrate hybrid learning models, provide teacher training in digital pedagogy, and implement inclusive education policies. Online learning in early childhood education presents significant challenges, but with the right strategy, its digital potential can be maximized to support early childhood development optimally. The implementation of interactive digital media and hybrid learning models needs to be ongoing, supported by teacher training and parental involvement. Further research can focus on the effectiveness of blended learning approaches in broader contexts, particularly on their impact on early childhood development outcomes. ABSTRAK Pembelajaran anak usia dini mengandalkan interaksi langsung yang bersifat praktik dan berbasis permainan. Namun, seiring perkembangan zaman, adaptasi teknologi menjadi suatu kebutuhan. Pembelajaran daring bagi siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) belum banyak diterapkan secara luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap tantangan serta mengeksplorasi potensi pembelajaran daring sebagai solusi alternatif dalam pembelajaran di era digital di TKIT An-Najah Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan utama dalam pembelajaran daring adalah rendahnya kemampuan literasi anak dalam aspek bahasa dan komunikasi. Selain itu, kurangnya semangat belajar muncul karena siswa dituntut untuk mandiri dan mampu berkonsentrasi selama proses pembelajaran. Keterbatasan infrastruktur juga menjadi hambatan, meliputi akses internet yang kurang memadai, minimnya perangkat digital, serta rendahnya keterlibatan orang tua akibat faktor sosial ekonomi. Strategi untuk meminimalkan hambatan dan memaksimalkan potensi pembelajaran daring dirancang melalui pemanfaatan media digital interaktif, integrasi model pembelajaran hybrid, pelatihan guru dalam pedagogi digital, serta penerapan kebijakan pendidikan yang inklusif. Pembelajaran daring dalam pendidikan anak usia dini menghadirkan tantangan yang signifikan, namun dengan strategi yang tepat, potensi digitalnya dapat dimaksimalkan untuk mendukung perkembangan anak usia dini secara optimal. Implementasi media digital interaktif dan model pembelajaran hybrid perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan dukungan pelatihan guru serta keterlibatan orang tua. Penelitian selanjutnya dapat difokuskan pada efektivitas pendekatan blended learning dalam konteks yang lebih luas, khususnya terhadap dampaknya pada hasil perkembangan anak usia dini