Ekosistem mangrove merupakan ekosistem perairan payau yang berfungsi sebagai zona transisi antara daratan dan lautan. Pemanfaatan ekosistem ini secara berkelanjutan dapat diwujudkan melalui kegiatan penelitian, pendidikan, dan ekowisata tanpa mengganggu keseimbangan ekologisnya. Ekowisata, sebagai salah satu strategi pemerintah, bertujuan untuk mengintegrasikan kegiatan wisata dengan upaya pelestarian lingkungan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari sampai dengan Mei 2024 di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur vegetasi mangrove, faktor pembatas pertumbuhan, indeks kesesuaian wisata, kapasitas daya dukung kawasan, serta merumuskan strategi pengelolaan ekowisata mangrove di Kabupaten Kepulauan Meranti. Metode yang digunakan meliputi survei dan analisis deskriptif dimana pengambilan data vegetasi dengan teknik Line Transect Plot dan strategi pengelolaannya.Hasil penelitian mengidentifikasi 11 jenis mangrove, dengan Rhizophora apiculata sebagai jenis dominan (439 individu, 36,49%). Kondisi ini menunjukkan bahwa ekosistem mangrove di Kabupaten Kepulauan Meranti dalam kategori baik. Parameter kualitas air menunjukkan kisaran salinitas 21-38 ppt, suhu 25-33°C, pH air 6,5-8, dan pH tanah 7-8, yang sesuai dengan baku mutu berdasarkan PP No. 22 Tahun 2021. Pengamatan pasang surut menunjukkan elevasi muka air tertinggi 2,17 m dan terendah 0,23 m. Indeks kesesuaian wisata menunjukkan hasil yang memadai, dinilai berdasarkan ketebalan, kerapatan, jenis mangrove, biota, dan pasang surut. Kapasitas daya dukung jalur tracking sepanjang 100-700 m mampu menampung 16-112 pengunjung per hari.