Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Dari Teologi Normatif ke Teologi Integratif-Transformatif: Rekonstruksi Epistemologis Islam sebagai Kritik dan Praksis Pembebasan Sosial Isnaini Ajrin Karim; Salwa Ariella Belle Zandra; Faridatun Nafisah; Ali Hasan Siswanto
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 3 (2026): MEI 2026
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/rm294w04

Abstract

This article begins with the epistemological crisis in contemporary Islamic theology, which is still dominated by a normative-textual paradigm, making it less responsive to the complexity of social problems such as structural inequality, the ecological crisis, and digital disruption. The research gap lies in the absence of a theological framework that systematically integrates the dimensions of revelation, social reality, and technological development into a coherent epistemological framework. Previous studies on transformative theology tend to be partial, do not offer operational conceptual models, and have not yet made theology a tool for critical analysis of contemporary structures of injustice. This article uses an integrative theoretical approach that combines critical hermeneutics, practical philosophy, and critical sociology to reconstruct Islamic theology in a more contextual and emancipatory direction. The research method used is qualitative-conceptual with critical discourse analysis techniques and theoretical synthesis of classical and contemporary literature. The main argument of this article is that Islamic theology needs to be reconstructed from a theocentric-normative paradigm to an integrative-transformative model based on theo-anthropo-centric dialectics, which positions theology as both social critique and a practice of liberation. Within this framework, theology functions not only as normative legitimation but also as an instrument of emancipation capable of critically responding to social and digital realities. This article's scholarly contribution lies in the formulation of an Integrative-Transformative Islamic Theology model that integrates revelation, social reality, and technology as a new epistemological basis for theological studies, and expands the function of theology as a critical social theory in the context of contemporary Islam.
Dari Krisis Makna ke Transformasi Sosial: Rekonstruksi Teologi sebagai Sistem Meaning-Making dalam Perspektif Logoterapi Nabila Nailul Faroh; Fabian Faqih Maulana; Susi Rike; Ali Hasan Siswanto
Indonesian Journal of Multidisciplinary Scientific Studies Vol 4 No 3 (2026): Edisi Mei 2026
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STAI Raudhatul Akmal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33151/ijomss.v4i3.906

Abstract

Artikel ini berangkat dari krisis fundamental dalam diskursus teologi kontemporer yang kehilangan daya transformasionalnya dalam merespons perubahan sosial dan krisis eksistensial manusia modern. Teologi cenderung direduksi menjadi sistem normatif-dogmatis yang terlepas dari pengalaman hidup, sehingga gagal menjawab problem utama manusia, yaitu krisis makna (existential vacuum). Kesenjangan penelitian terletak pada minimnya integrasi antara teologi dan pendekatan psikologi eksistensial, khususnya dalam memahami teologi sebagai sumber meaning-making yang berimplikasi pada transformasi sosial. Artikel ini menggunakan pendekatan teoritis psikologi humanistik–eksistensial melalui logoterapi Viktor Frankl, yang menekankan kehendak untuk makna (will to meaning) sebagai motivasi dasar manusia. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-kritis dengan pendekatan interdisipliner, melalui analisis hermeneutik dan konseptual terhadap literatur teologi dan psikologi eksistensial. Argumen utama artikel ini adalah bahwa krisis teologi pada hakikatnya merupakan krisis makna, sehingga rekonstruksi teologi sebagai sistem meaning-making menjadi prasyarat bagi terciptanya transformasi sosial yang autentik. Teologi perlu direposisi dari sekadar sistem kepercayaan menjadi sumber orientasi eksistensial yang mampu membentuk kesadaran, tindakan, dan struktur sosial. Kontribusi ilmiah artikel ini terletak pada sintesis konseptual antara teologi dan logoterapi, pengembangan paradigma teologi berbasis makna, serta perumusan model masyarakat teologis yang berakar pada kesadaran eksistensial. Dengan demikian, teologi tidak hanya berfungsi sebagai wacana normatif, tetapi sebagai kekuatan transformatif dalam kehidupan sosial.
Dari Dogma Ke Emansipasi: Rekonstruksi Ilmu Kalam Melalui Takziyah Nafs Sebagai Paradigma Teologi Islam Transformatif Avika Dwi Astutik; Dewi Ramadlani Khoirunnisa; Zidni Tsalisatul Ulya; Ali Hasan Siswanto
QAZI: Journal of Islamic Studies Vol 3 No 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qz.v3i1.889

Abstract

Kajian teologi Islam kontemporer menunjukkan kecenderungan stagnasi epistemologis, terutama dalam tradisi Ilmu Kalam yang semakin tereduksi menjadi diskursus normatif-dogmatis dan kehilangan daya transformasinya dalam merespons problem kemanusiaan modern. Meskipun berbagai upaya rekonstruksi telah dilakukan oleh pemikir modern, kesenjangan penelitian (research gap) masih tampak pada absennya integrasi konseptual antara teologi dan Tasawuf sebagai basis epistemologi dan praksis sosial. Studi ini bertujuan untuk merekonstruksi teologi Islam menuju paradigma transformatif melalui pendekatan Tazkiyatun Nafs berbasis tauhid emansipatoris. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan filosofis-kritis dan hermeneutik reflektif terhadap literatur klasik dan kontemporer. Argumen utama yang diajukan adalah bahwa Tazkiyatun Nafs tidak hanya merupakan praksis spiritual individual, tetapi dapat dikembangkan sebagai paradigma teologis yang integratif, mencakup dimensi ontologis (tauhid sebagai pembebasan), epistemologis (integrasi akal, wahyu, dan pengalaman batin), serta aksiologis (orientasi pada transformasi sosial). Kontribusi ilmiah penelitian ini terletak pada formulasi paradigma Teologi Islam Transformatif yang mengatasi dikotomi antara teologi dan tasawuf, serta mereposisi tauhid sebagai kekuatan emansipatoris dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan praksis sosial. Dengan demikian, studi ini menawarkan kerangka teoretis baru yang relevan bagi pengembangan studi Islam kontemporer yang lebih kontekstual dan transformatif.