KRI Bima Suci memiliki peran vital ganda sebagai kapal latih Taruna AAL dan duta diplomasi maritim Indonesia. Kesiapan teknisnya, terutama sistem Diesel Generator (DG), adalah prasyarat keberhasilan misi strategis. Penelitian ini menganalisis keputusan modernisasi parsial dengan mengganti DG lama (425 kW) yang beroperasi pada load factor tidak efisien (92%) menjadi DG baru (565 kW) yang beroperasi lebih optimal (69%). Tujuannya adalah membandingkan performa teknis (efisiensi, keandalan, dan ketersediaan) dan menilai dampaknya terhadap kesiapan operasional misi diplomasi. Penelitian komparatif-asosiatif kuantitatif ini menggunakan data logbook operasional dan hasil uji statistik (Paired Sample t-test dan Distribusi Weibull) dari personel KRI Bima Suci. Hasil pengujian statistik menunjukkan perbedaan kinerja yang signifikan secara statistik (p < 0.001), memvalidasi peningkatan performa DG baru. Secara teknis, keandalan operasional (Mean Time Between Failure / MTBF) meningkat sebesar 51.6% (dari 310 jam menjadi 470 jam), availability sistem mencapai 96%, dan Specific Fuel Oil Consumption (SFOC) berkurang sebesar 9.2%. Analisis Weibull (β = 1.35) mengonfirmasi bahwa sistem DG baru berada dalam fase wear-out, menegaskan perlunya kebijakan Predictive Maintenance (PdM). Peningkatan keandalan ini secara langsung memperkuat kesiapan KRI Bima Suci, menjamin kelancaran misi diplomasi tanpa insiden downtime, dan meningkatkan citra soft power TNI AL. Implementasi Kebijakan, Strategi, dan Upaya (KSU) yang mengintegrasikan Reliability-Centered Maintenance (RCM) dan Total Productive Maintenance (TPM) direkomendasikan untuk mempertahankan keunggulan teknis dan efisiensi operasional sistem DG baru di masa depan.