Alfika Safitri
Program Studi Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Yatsi Madani

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Terapi aktivitas kelompok (TAK) dengan puzzle untuk meningkatkan fungsi kognitif pada lansia Alfika Safitri; Nabila Putri; Meisya Ayusetia Nirmala; Luthfi Fajar Juniarta; Fajar Amalia Ramadhani; Fadly Ikhyanuddin; Fadila Fira Damayanti; Jeasyana Aprilia Zahri; Fiki Firmansyah
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 3 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i3.3414

Abstract

Background: Elderly (elderly) is a phase of human development when a person reaches the age of 60. The increasing number of elderly people in Indonesia requires special attention for those experiencing the aging process. Cognitive decline is a common condition in the elderly and can impact quality of life and daily activities. Non-pharmacological interventions are a strategic option for improving and maintaining cognitive function in the elderly, given that these approaches are safe, easy to implement, economical, and well-accepted by the elderly. One form of intervention that can be used is puzzle therapy, a cognitive activity that trains memory, attention, and higher-order thinking skills through the manipulation of picture pieces. Purpose: To improve and maintain cognitive function in the elderly through puzzle therapy. Method: A group activity therapy (TAK) activity using puzzles was conducted on Tuesday, May 12, 2026, at the Marfati Community Rehabilitation Center (PSTW) in Tangerang City. Thirty elderly people participated in the activity and lasted approximately 30–45 minutes. The target group was elderly people aged 60 years and older living at the Marfati Community Rehabilitation Center in Tangerang City, who were physically stable, able to participate in group activities, and interested or motivated to participate in the TAK activity. The initial phase of the activity involved providing explanations and simulations of puzzle-assembling games tailored to each elderly person's individual abilities. Subsequently, assistance and discussions were provided with the elderly in demonstratively solving the puzzles, including providing guidance on solving puzzle-assembling problems. Evaluation was conducted by observing the cognitive development, motor skills, and memory of the elderly. Improvements in the elderly's abilities and responses were presented descriptively as a reflection of the results and benefits of the therapy. Results: Overall, the activity proceeded well, orderly, and according to the established plan. Most elderly people appeared to pay close attention to the explanations. Some elderly needed repetition of instructions to better understand how to play and assemble the puzzles. Observations showed that most seniors were able to recognize images, match shapes, and assemble puzzle pieces in stages. Some seniors who experienced decreased concentration or memory limitations received additional guidance from the facilitator. Throughout the activity, the seniors appeared enthusiastic, actively engaged in discussions with other participants, and demonstrated a strong sense of curiosity. Some seniors were able to complete the puzzles successfully, while others required additional time. The facilitator provided appreciation and positive reinforcement to all participants for their participation. Furthermore, a brief evaluation was conducted regarding the seniors' feelings and experiences during the activity. Overall, this activity was able to increase participation, social interaction, and improve cognitive abilities in seniors through enjoyable activities. Conclusion: This activity had a positive impact on the cognitive function of the elderly. Puzzle therapy also provided psychosocial benefits for the elderly. The elderly appeared more enthusiastic, were able to interact with other participants, and demonstrated a cooperative attitude during the activity. This group activity helped create a pleasant atmosphere and increased the elderly's confidence in completing tasks. Therapy using puzzles can be an effective non-pharmacological intervention to stimulate cognitive function, improve concentration, and support social interaction in the elderly in social care settings. Suggestion: Students are expected to improve their skills in implementing group activity therapy (TAK) and develop innovative activities that can help maintain and improve the cognitive function of the elderly sustainably, particularly using cognitive stimulation media such as puzzles. It is hoped that puzzle therapy activities can become a routine program in elderly care settings, as an effort to prevent cognitive decline and increase the elderly's activity and social interaction. Keywords: Cognitive function in the elderly; Elderly; Non-pharmacological therapy; Puzzle games Pendahuluan: Lanjut usia (lansia) merupakan sebuah fase dari proses perkembangan manusia ketika seseorang telah mencapai usia 60 tahun. Peningkatan jumlah lansia di Indonesia ini memberikan suatu perhatian khusus pada lansia yang mengalami suatu proses menua. Kemunduran fungsi kognitif merupakan salah satu kondisi yang sering terjadi pada lansia dan dapat berdampak terhadap kualitas hidup serta aktivitas sehari-hari. Intervensi non-farmakologis menjadi pilihan strategis sebagai upaya meningkatkan dan mempertahankan fungsi kognitif pada lansia, mengingat pendekatan tersebut aman, mudah diterapkan, ekonomis, dan dapat diterima dengan baik oleh lansia. Salah satu bentuk intervensi yang dapat digunakan adalah terapi puzzle, yaitu aktivitas kognitif yang melatih memori, perhatian, dan kemampuan berpikir tingkat tinggi melalui manipulasi kepingan gambar Tujuan: Untuk meningkatkan dan mempertahankan fungsi kognitif lansia melalui pendekatan terapi puzzle Metode: Kegiatan terapi aktivitas kelompok (TAK) dengan media puzzle dilaksanakan pada hari Selasa, 12 Mei 2026 di PSTW Marfati Kota Tangerang. Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang lansia dan berlangsung selama ±30–45 menit. Sasaran dalam kegiatan ini adalah lansia berusia ≥60 tahun yang tinggal di PSTW Marfati Kota Tangerang, dalam kondisi fisik stabil, mampu mengikuti aktivitas kelompok, serta memiliki minat atau motivasi untuk berpartisipasi dalam kegiatan TAK bermain puzzle. Tahap awal kegiatan dengan memberikan penjelasan dan simulasi permainan menyusun puzzle sesuai kemampuan masing-masing lansia. Selanjutnya dilakukan pendampingan dan diskusi pada lansia dalam menyelesaikan permainan puzzle secara demonstratif hingga petunjuk dalam memecahkan masalah penyusunan gambar puzzle. Evaluasi dilakukan dengan pengamatan terhadap perkembangan kognitif, kemampuan motorik, dan daya ingat lansia. Peningkatan kemampuan dan respon lansia disajikan secara deskriptif sebagai bentuk hasil dan manfaat terapi dalam kegiatan ini. Hasil: Secara umum, kegiatan berjalan dengan baik, tertib, dan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Sebagian besar lansia terlihat memperhatikan penjelasan dengan baik. Beberapa lansia membutuhkan pengulangan instruksi agar lebih memahami cara bermain dan menyusun puzzle. Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar lansia mampu mengenali gambar, mencocokkan bentuk, serta menyusun potongan puzzle secara bertahap. Beberapa lansia yang mengalami penurunan konsentrasi atau keterbatasan daya ingat mendapatkan arahan tambahan dari fasilitator. Selama kegiatan berlangsung, lansia terlihat antusias, aktif berdiskusi dengan peserta lain, serta menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi. Beberapa lansia mampu menyelesaikan puzzle dengan baik, sedangkan yang lainnya masih membutuhkan waktu tambahan. Fasilitator memberikan apresiasi dan penguatan positif kepada seluruh peserta atas partisipasi mereka dalam kegiatan. Selain itu, dilakukan evaluasi singkat terkait perasaan dan pengalaman lansia selama mengikuti kegiatan. Secara keseluruhan, kegiatan ini mampu meningkatkan partisipasi, interaksi sosial, serta melatih kemampuan kognitif lansia melalui aktivitas yang menyenangkan. Simpulan: Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap fungsi kognitif lansia. Terapi puzzle juga memberikan manfaat pada aspek psikososial pada lansia. Lansia tampak lebih antusias, mampu berinteraksi dengan sesama peserta, serta menunjukkan sikap kooperatif selama kegiatan. Aktivitas kelompok ini membantu menciptakan suasana yang menyenangkan dan meningkatkan rasa percaya diri lansia dalam menyelesaikan tugas. Terapi menggunakan media puzzle dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi non-farmakologis yang efektif dalam menstimulasi fungsi kognitif, meningkatkan konsentrasi, serta mendukung interaksi sosial lansia di lingkungan panti sosial. Saran: Diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan keterampilan dalam melaksanakan terapi aktivitas kelompok (TAK) dan mengembangkan inovasi kegiatan yang dapat membantu mempertahankan dan meningkatkan fungsi kognitif lansia secara berkelanjutan, khususnya dengan media stimulasi kognitif seperti puzzle. Diharapkan kegiatan terapi puzzle dapat dijadikan sebagai program rutin dalam kegiatan lansia di panti, sebagai upaya untuk mencegah penurunan fungsi kognitif serta meningkatkan aktivitas dan interaksi sosial lansia.