Disrupsi digital menghadirkan tantangan serius bagi pesantren salafiyah dalam mempertahankan transmisi keilmuan klasik dan kedisiplinan santri. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis strategi pengelolaan pendidikan Islam di Pondok Pesantren Assimachi Grati Pasuruan melalui fungsi manajemen POAC (planning, organizing, actuating, controlling) dalam menjaga ketahanan budaya pesantren di era digital. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap kiai, ustadzah, pengurus keamanan, dan santri, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Temuan penelitian menunjukkan bahwa: (1) fungsi planning diwujudkan melalui kebijakan zero gadget yang bersifat fleksibel-selektif sejak penerimaan santri baru, dengan akses digital terbatas hanya bagi asatidzah dan pengurus untuk kepentingan institusional; (2) fungsi actuating dijalankan melalui jadwal harian terstruktur dan internalisasi nilai muraqabah yang mentransformasi kepatuhan koersif menjadi kesadaran spiritual mandiri; serta (3) fungsi controlling diperkuat melalui inspeksi mendadak, pembatasan komunikasi digital, dan pemanfaatan CCTV dengan dukungan legitimasi karismatik kiai. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa pembatasan teknologi yang terencana dan berbasis nilai terbukti efektif sebagai strategi kelembagaan untuk menjaga ekosistem pendidikan salafiyah. Orisinalitas penelitian ini terletak pada konstruksi konseptual Model Ketahanan Budaya Pesantren yang menghubungkan pengawasan fisik, kontrol kelembagaan, dan internalisasi nilai dalam satu kerangka manajerial yang utuh dan dapat direplikasi oleh pesantren salafiyah lainnya