Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Agama Perspektif Sigmund Freud: An illusion of Obsession Bobby Fahreza; Husnaini; Muhammad Jafar; Muhammad Al Mustafa; Darmadi
Jurnal Ilmu Multidisiplin Vol. 3 No. 4 (2025): Jurnal Ilmu Multidisplin (Januari-Maret 2025)
Publisher : Green Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jim.v3i4.1840

Abstract

Dalam kehidupan sosial kontemporer, agama tidak hanya dipahami sebagai sistem kepercayaan normatif yang mengatur perilaku eksternal, tetapi juga sebagai pengalaman batin yang membentuk cara individu mengelola kecemasan, rasa bersalah, dan pencarian makna eksistensial. Kajian mutakhir psikologi agama menunjukkan bahwa religiusitas bersifat ambivalen, berfungsi sebagai sumber ketenangan sekaligus ruang ketegangan psikologis. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana pengalaman keberagamaan beroperasi sebagai mekanisme regulasi kecemasan dan pengendalian moral melalui perspektif psikoanalitik Sigmund Freud yang didialogkan dengan psikologi agama kontemporer. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan analisis dokumen terhadap karya utama Freud dan literatur ilmiah terkini mengenai scrupulosity, negative religious coping, dan konflik keberagamaan. Data dianalisis menggunakan thematic analysis refleksif untuk mengidentifikasi pola makna berulang dalam pengalaman religius problematik. Hasil penelitian menunjukkan tiga tema utama, yaitu agama sebagai regulator kecemasan dan rasa bersalah moral, repetisi ritual yang dipicu pencarian kepastian moral, serta konflik eksistensial antara makna spiritual ideal dan pengalaman psikologis subjektif. Temuan ini menegaskan ambivalensi religiusitas yang dapat memberi struktur dan rasa aman sementara, namun juga berpotensi mempertahankan tekanan psikologis. Teoretis, penelitian ini mereposisi konsep agama sebagai obsessional neurosis dalam pemikiran Freud sebagai kerangka interpretatif non-reduksionis. Secara praktis, studi ini menekankan integrasi literasi kesehatan mental dalam pendidikan dan pendampingan keagamaan.
Pluralism of Inheritance Law: Gender Justice in Islamic and Acehnese Customary Perspectives Januddin Januddin; Muhammad Jafar; Nurlinda Yani
Jurisprudensi: Jurnal Ilmu Syariah, Perundang-Undangan dan Ekonomi Islam Vol. 18 No. 1 (2026): Jurisprudensi: Jurnal Ilmu Syariah, Perundang-Undangan dan Ekonomi Islam
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/jurisprudensi.v18i1.14120

Abstract

Ideally, the inheritance law system in Indonesia is expected to realize inclusive justice for all parties, including in terms of gender. However, in reality, the pluralism of law consisting of Islamic law, customary law, and civil law reveals fundamental differences in inheritance distribution, which often lead to inequality, particularly for women. This study aims to analyze how gender justice is understood and implemented within a plural inheritance law system, as well as how local practices in Aceh reflect the interaction between Islamic law and customary law. This article is categorized as a library research with a qualitative approach. The methodology used is normative legal study and comparative study. The results conclude that the pluralism of inheritance law in Indonesia provides flexibility in legal application but also has the potential to create legal uncertainty and gender injustice. From an Islamic perspective, inheritance distribution is based on distributive justice, while customary law shows variations depending on kinship systems. Local practices in Aceh demonstrate an integration of Islamic law and customary law through deliberation, although they do not yet fully reflect contextual gender justice.