Gregorius Genep Sukendro
Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Tarumanagara

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PEMBEKALAN PRODUKSI KONTEN POSITIF MEDIA DIGITAL BAGI SISWA SEKOLAH MENENGAH Nigar Pandrianto; Gregorius Genep Sukendro; Budi Utami
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v9i1.36287

Abstract

Penggunaan media digital yang kian meluas, tidak hanya meningkatkan hubungan, tetapi juga penyalahgunaan media digital itu sendiri. Salah satunya adalah penyebaran konten negatif. Konten negatif itu dapat berupa berita palsu, cyber bullying, radikalisme online, dan hoax yang disebar melalui berbagai platform. Tidak jarang media-media ini menjadi tempat paling subur penyebaran ataupun penyemaian berbagai ide negatif terutama untuk anak muda. Untuk meredam hal itu banyak pihak mendorong masyarakat untuk mulai menyebarkan konten positif. Sayangnya tidak semua orang sanggup membuat dan menyebarkan konten positif secara tepat. Oleh sebab itu diperlukan sebuah pelatihan ataupun pembekalan yang dapat memberikan wawasan kepada masyarakat seputar konten positif, terutama di kalangan anak muda maupun remaja, Hal ini diharapkan menjadi titik awal penyebaran konten positif di masyarakat, sekaligus meredam penyebaran konten media sosial negatif. Salah satu tools yang dapat digunakan adalah pemberian pembekalan. Adapun pelatihan produksi konten positif berorientasi pada konten yang bersifat edukatif, informatif serta ekspresif. Tips dan langkah-langkah praktis juga akan diberikan agar peserta pembekalan dapat menyerap informasi dengan lebih mudah dan langsung dapat mempraktikkanya. Selain itu, tips-tips distribusi konten pun akan diberikan agar penyebaran konten positif dapat lebih efektif. Metode ini terbilang efektif karena peserta menjadi lebih memahami apa itu konten positif dan bagaimana memproduksinya melalui berbagai platform, termasuk melalui media sosial. Peserta juga menjadi lebih paham bagaimana harus menghindari penyebaran konten negatif, dan bagaimana konsekuensi yang mungkin terjadi ketika konten-konten tersebut tersebar tanpa terkendali.