Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EDUKASI PENGHITUNGAN FOOD COST NASI GUDEG PASAR LARIS Enrico Joseph Immanuel Winata; Hendro Lukman
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v9i1.36336

Abstract

Cost is one of the most important things for a business. In manufacturing companies, costs can be categorized into direct material costs, direct labor costs, overhead costs, and other operational expenses. One example of a manufacturing business is culinary enterprise. It has the cost of raw food materials as its main cost component. referred to as food cost. A healthy food cost proportion is 40% of its selling price at maximum, so that other production and operational costs can be covered while still generating profit. The calculation of food cost can be utilized to evaluate the profitability of a menu. In this community service project (PKM), the PKM team educated the calculation of food cost to a traditional culinary enterprise, “Nasi Gudeg Pasar Laris”, as the partner of this project, with their main menu “Nasi Gudeg Komplit”. Then, the PKM team gathered secondary data from the partner, detailing what raw food materials are required and how much each of them costs. Next, the team calculated the food cost of the menu. The result indicated that the food cost proportion of the menu exceeded the healthy range significantly. Based on the result, strategic advices were offered to the partner on how to reduce the food cost proportion. Furthermore, training on food cost calculation was also provided so that in the future they can implement it again independently other menus to evaluate their profitability. ABSTRAK Biaya adalah salah satu hal terpenting yang dimiliki suatu bisnis. Pada perusahaan manufaktur, biaya dapat dikelompokkan menjadi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead, dan beban operasional lainnya. Salah satu contoh perusahaan manufaktur adalah usaha kuliner. Komponen biaya utamanya adalah biaya bahan baku makanan, yang disebut dengan istilah food cost. Proporsi food cost yang sehat paling tinggi 40% dari harga jualnya, sehingga biaya produksi dan operasional lainnya masih dapat tertutupi dan tetap menghasilkan keuntungan. Perhitungan food cost dapat digunakan untuk mengevaluasi profitabilitas dari suatu menu. Pada kegiatan ini, tim PKM memberikan edukasi mengenai perhitungan food cost kepada salah satu usaha kuliner tradisional, yaitu Nasi Gudeg Pasar Laris, sebagai mitra PKM. Mitra memiliki menu utama, yaitu Nasi Gudeg Komplit. Setelah memberikan edukasi kepada mitra, tim PKM mengumpulkan data bahan baku pengolahan Nasi Gudeg Komplit, lalu memantau harga pasar masing-masing bahan baku tersebut. Kemudian, dilakukan perhitungan food cost pada menu tersebut, dengan hasil proporsi food cost terhadap harga jual melewati batas sehat maksimum secara signifikan. Berdasarkan hasil tersebut, diberikan saran mengenai strategi apa yang harus diambil untuk mengurangi proporsi food cost kepada mitra. Lalu, diberikan juga pelatihan kepada mitra agar kedepannya mitra bisa menerapkan kembali perhitungan food cost pada menu lainnya untuk mengevaluasi profitabilitasnya.
Pengenalan Pembukuan Sederhana Secara Manual pada Pelaku Usaha Kecil Dan Menengah (UKM) Aurell Natalie; Hendro Lukman
Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 6 No. 5 (2026): September 2026 - Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Indonesian Scientific Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59395/altifani.v6i5.1345

Abstract

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memiliki peran strategis sebagai tulang punggung perekonomian nasional, namun banyak pelaku UKM yang masih menghadapi kesulitan dalam mengelola keuangan. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak UKM masih abai terhadap pentingnya pencatatan keuangan yang rapi, seringkali mencampur arus kas pribadi dengan usaha, dan tidak menerapkan pembukuan yang memadai. Kondisi ini dapat menghambat perkembangan usaha dan berisiko menyebabkan kebangkrutan karena kesulitan membedakan keuntungan dengan modal kerja. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memperkenalkan pembukuan sederhana secara manual kepada mitra UKM, yaitu “OM Bandeng Cabut Duri”, yang bergerak di bidang perikanan. Mitra ini teridentifikasi tidak memiliki sistem pembukuan yang memadai, hanya mengandalkan hitungan masuk keluar kas biasa dan mencampur uang pribadi dengan usaha. Metode yang digunakan adalah ceramah dan tanya jawab secara offline di tempat usaha mitra, didukung oleh alat bantu seperti buku kas dan formulir pencatatan, dengan materi yang dirancang sederhana dan praktis. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa UKM “OM Bandeng Cabut Duri” berhasil meningkatkan kapabilitas keuangannya. Mitra telah mampu memisahkan keuangan pribadi dan usaha, mencatat transaksi secara tertib, dan menyusun laporan laba-rugi sederhana dari kondisi awal tanpa pencatatan terstruktur. Keberhasilan ini menegaskan bahwa pendekatan pelatihan manual yang partisipatif dan disesuaikan dengan kebutuhan dapat efektif dalam membangun kesadaran dan keterampilan dasar manajemen keuangan UKM. Mitra disarankan untuk konsisten dalam penerapan pembukuan ini dan mulai menyusun anggaran kas sederhana untuk keberlanjutan usaha.