Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Komunikasi Hijau Melalui Pengembangan Green School Dengan Sustainable Farming Apotek Hidup Dan Bahan Pangan Untuk Sekolah Sungai Ciliwung Nada Arina Romli; Prima Yustitia Nurul Islami; M.Fikri Akbar; Sandy Allifiansyah
Dimasejati: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 1 (2026)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70095/dimasejati.v8i1.23273

Abstract

Dengan lebih dari 40 juta orang yang bekerja di industri kehutanan, perikanan, dan pertanian, Indonesia adalah negara agraris. Namun, perkembangan industri ini sangat lambat, hanya menyumbang sekitar 12% dari PDB Indonesia. Indonesia adalah negara agraris yang tetap mengimpor banyak barang, termasuk daging, gula, dan beras. Hal ini disebabkan karena, dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara dan seluruh dunia, ketahanan pangan Indonesia masih sangat bermasalah. Tingkat ketahanan pangan Indonesia lebih rendah daripada rata-rata dunia dan negara-negara tetangganya. Indeks Ketahanan Pangan Global (GFSI) tahun 2022 menempatkan Indonesia di peringkat ke-69 dari 113 negara. Menurut GFSI, Indonesia berada di peringkat ke-63 dari 113 negara pada tahun 2023. (2023, CNBC) Selama masa pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), pertumbuhan PDB rata-rata di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan hanya 3,04%, dibandingkan dengan 3,6% selama era Susilo Bambang Yudhoyono. Sementara itu, perdagangan grosir dan ritel serta perbaikan mobil dan sepeda motor meningkat sebesar 12,85%. Indonesia, di sisi lain, mengonsumsi banyak sekali, terutama makanan yang tinggi karbohidrat. Oleh karena itu, alih-alih memajukan ketahanan pangan di Indonesia, impor justru menjadi cara untuk memenuhi konsumsi produk pertanian. (2023, CNBC) Dalam program ini, sekolah Ciliwung River dan komunitas Mat Peci berperan sebagai duta bagi mitra pengabdian masyarakat. Permasalahan dari dua mitra tersebut adalah yang pertama, walaupun terdapat lahan kosong namun belum produktif untuk menjadi lahan pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai kebun komunal untuk dapat dikonsumsi anak-anak sekitar sekolah sungai ciliwung dan komunitas mat peci dan diolah menjadi barang konsumsi lainnya seperti jamu untuk kesehatan. Permasalahan kedua, Sekolah Sungai Ciliwung merupakan sekolah informal yang menjadi laboratorium hidup bagi berbagai sekolah di sekitaran DKI Jakarta yang ingin belajar mengenai pelestarian alam dan sungai. Namun pendiri Sekolah belum paham mengenai konsep sustainable farming dimana kebun seharusnya menggunakan konsep berkelanjutan dengan mengintegrasikan kebun dan peternakan menjadi satu dimana hasil peternakan menjadi sumber pupuk bagi kebun dan pakan ternak berasal dari kebun. Ketiga anak-anak belum dilibatkan dalam pembangunan daerah sehingga masih tersisih dan tidak diperhatikan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya, termasuk pemenuhan pangan gizi yang sehat dan berasal dari wilayah setempat sehingga konsep garden to table belum dimanfaatkan untuk menunjang kesehatan anak-anak. Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bercocok tanam dan mengembangkan model kebun komunal serta mengolah tanaman obat menjadi jamu. Sehingga dibutuhkan solusi dalam meningkatkan ketahanan pangan khususnya pada anak-anak yang tergabung dala sekolah sungai ciliwung dan komunitas mat peci yaitu dengan berbagai metode yang diterapkan dalam kegiatan diantaranya observasi, wawancara, pelatihan bercocok tanam dan mengembangkan kebun komunal yang dilakukan di Mat Peci Camp, pelatihan membuat jamu, penerapan teknologi serta pendampingan dan evaluasi. Hasil yang ingin dicapai dalam kegiatan ini adalah tumbuhnya  pengetahuan serta keterampilan peserta untuk merancang dan mengelola kebun komuntas serta hasil kebun akan mengembangkan kemandirian pangan dan ekonomi bagi anggota komunitas mat peçi.
Strategi Manajemen Komunikasi Pariwisata Hijau dalam Mendorong Pengembangan Pariwisata Ramah Lingkungan di Pantai Sebalang Lampung Muhammad Fikri Akbar; Sandy Allifiansyah; Noprita Herari; Rheza Eka Athallah; Aditya Naufal
Jurnal Khabar: Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 8 No. 1 (2026): Juni
Publisher : STAI Bumi Silampari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37092/khabar.v8i1.1565

Abstract

This study examines the communication management of eco-friendly tourism at Sebalang Beach, South Lampung. Employing a qualitative approach and a case study method, the research explores how communication strategies are designed and implemented to promote environmentally responsible tourism while empowering the coastal community. The findings indicate that the development of effective eco-friendly tourism at Sebalang Beach is significantly influenced by context-based message planning that integrates destination promotion with environmental education. These messages utilize simple language, persuasive visuals, and local cultural values ??to raise ecological awareness among visitors and local residents. Furthermore, participatory communication plays a vital role in empowering the coastal community to act as active participants in planning, decision-making, and day-to-day tourism management practices. This approach fosters a strong sense of ownership, social cohesion, and sustainable pro-environmental behavior. The study also reveals that synergy among local government, tourism operators, community members, youth groups, and local business owners forms the foundation of collaborative governance. Such collaboration strengthens policy legitimacy, minimizes social conflict, and supports long-term environmental sustainability. Overall, the research demonstrates that eco-friendly tourism communication grounded in stakeholder participation and collaboration is essential for achieving sustainable coastal tourism that balances environmental preservation with the socio-economic well-being of the local community.