Kesehatan mental siswa merupakan pondasi utama keberhasilan akademik dan perkembangan pribadi, namun dinamika era digital serta dampak pasca-pandemi telah meningkatkan risiko gangguan kecemasan dan degradasi motivasi belajar. Kondisi ini menjadi tantangan krusial dalam upaya percepatan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia, khususnya pada pilar kehidupan sehat dan sejahtera (tujuan 3) serta pendidikan berkualitas (tujuan 4). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi efektivitas peran strategis guru Bimbingan dan Konseling (BK) dalam meningkatkan kesehatan mental siswa melalui pendekatan humanistik di lingkungan sekolah. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka (library research) dengan analisis isi terhadap berbagai literatur jurnal terakreditasi dalam rentang tahun 2016-2026. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan prinsip utama humanistik—seperti unconditional positive regard, empati, dan autentisitas—mampu menciptakan ruang aman secara psikologis bagi siswa. Implementasi nilai-nilai ini tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga preventif dalam meningkatkan self-esteem siswa dan mendorong pencapaian aktualisasi diri (fully functioning person). Penelitian ini merekomendasikan guru BK untuk mengintegrasikan teknik active listening dan dialog non-direktif dalam layanan bimbingan klasikal maupun konseling individu guna memperkuat relasi teapeutik. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan yang "memanusiakan manusia" menjadi kunci strategis bagi guru BK sebagai fasilitator kesehatan mental, sekaligus kontribusi nyata dalam mewujudkan target SDGs melalui penguatan sumber daya manusia yang resilien.