Ninik Yunitri
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Edukasi Kesehatan Mental Pada Keluarga dalam Merawat Anggota Keluarga dengan Risiko Perilaku Kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender Nuraenah Nuraenah; Slametiningsih Slametiningsih; Ninik Yunitri; Rani Septiawantary; Mohammad Rizqi Fatahillah; Evita Nurmayla; Mohammad Fathi Robbani
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 6 (2026): Volume 9 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i6.25543

Abstract

ABSTRAK Manusia dalam hidupnya tidak lepas menghadapi masalah psikososial  seperti cemas dan depresi.  Cemas adalah perasaan khawatir, was-was, takut yang akan mengancam dirinnya( Keliat 2020),  sedangkan Depresi merupakan gangguan  alam perasaan  sedih  dan murung  yang berkepanjangan dan diakhiri dengan putus asa dan beresiko menceledrai diri sendiri ( Dadang Hawari 2020). Cemas dan depresi merupakan bagian dari gangguan jiwa,   sehingga akan mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain sehingga respon akan menarik diri. Salah satu gangguan jiwa berat yang  ditemukan di masyarakat adalah skizofrenia. Skizofrenia merupakan kumpulan gejala klinis yang ditandai oleh perubahan dalam aspek kognitif, emosi, persepsi, dan perilaku. Berdasarkan analisa situasi permasalahan sebelumnya, solusi yang ditawarkan yaitu melakukan kegiatan Edukasi  Kesehatan Jiwa pada  Keluarga dalam merawat  anggota  Resiko Prilaku Kekerasan di RS. Islam Jiwa Klender  Jakarta Timur. Dengan adanya  Pengmas dari FIK.  Keluarga mampu merawat anggota keluarga dengan Resiko Prilaku Kekerasan  setelah mendapatkan Edukasi tentang  cara merawat pasien gangguan jiwa yang beresiko  Prilaku Kekerasan. Kata Kunci:  Edukasi,  Kesehatan Jiwa, Merawat  Anggota Keluarga.  ABSTRACT Humans in their lives cannot escape facing psychosocial problems  such as anxiety and depression. Anxiety is a feeling of worry, apprehension, fear that will threaten oneself (Keliat 2020),  while depression is a disorder  of  feelings of sadness  and gloom  that is prolonged and ends in hopelessness and the risk of self-harm (Dadang Hawari 2020). Anxiety and depression are part of mental disorders,  so that they will experience difficulties in interacting with others, resulting in a response of withdrawal. One of the severe mental disorders found in society is schizophrenia. Schizophrenia is a collection of clinical symptoms characterized by changes in cognitive, emotional, perceptual, and behavioral aspects. Based on the analysis of the previous situation, the solution offered is to conduct Mental Health Education activities for  families in caring for  members  at risk of violent behavior at the Klender Islamic Mental Hospital Klender Hospital in East Jakarta. With the support of the Community Service Program from the Faculty of Nursing, families are able to care for family members at risk of violent behavior after receiving education on how to care for patients with mental disorders who are at risk of violent behavior.  Keywords: Education, Mental Health, Caring For Family Members.
Penerapan Evidence Base Nursing Practice Skrining Diabetic Sensorimotori Polineuropathy (DSPN) di UPT RSUD Labuang Baji Makassar Sri Sakinah; Yani Sofiani; Ninik Yunitri
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 7 (2025): Volume 5 Nomor 7 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i7.18795

Abstract

ABSTRACT Diabetes Mellitus is a degenerative disease, if not treated properly it can have a negative impact on complications in various organ systems in the body (Syahid, 2021). One of the complications of diabetes that often occurs is neuropathy (nerve damage) in the feet which increases the incidence of foot ulcers, infections and even the need for foot amputation (Sianipar, 2023). The aim of this research is to prepare Standard Operating Procedures (SPO) for the implementation of EBNP regarding Diabetic Sensorimotor Polyneuropathy (DSPN) Screening in Type 2 Diabetes Mellitus patients. The number of respondents involved in implementing this EBNP was 14 people. In the implementation of EBNP, Diabetic Sensorimotor Polyneuropathy (DSPN) screening was carried out using the mTSN (Modified Toronto Clinic Score Neuropathy) instrument which aims to assess whether there are symptoms of neuropathy and no symptoms of neuropathy. DSPN screening is carried out based on Standard Operating Procedures (SOP). Based on the results of the two instrument tests between mTCSN and mNSI-E using the undercurve test, it can be concluded that the mTCSN instrument has a higher sensitivity value with a value of 0.909, while the sensitivity value for the mNSI-E instrument is smaller than the mTCSN instrument with a value of 0.571. So, to screen for neuropathy it is more effective to use the mTCSN instrument because the sensitivity score is higher. Keywords: Diabetes Mellitus, Screening, Polyneuropathy, DSPN  ABSTRAK Diabetes Melitus merupakan penyakit degeneratif bila tidak ditangani dengan baik dapat berdampak buruk menjadi komplikasi pada berbagai sistem organ dalam tubuh (Syahid, 2021). Salah satu komlikasi dari diabetes yang sering terjadi adalah Neuropati (kerusakan saraf) dikaki yang meningkatkan kejadian ulkus kaki, infeksi dan bahkan keharusan untuk amputasi kaki (Sianipar, 2023). Tujuan penelitian ini adalah tersusunnya Standar Prosedur Operasional (SPO) pelaksanaan EBNP tentang Skrining Diabetic Sensorimotori Polyneurophaty (DSPN) pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Jumlah responden yang terlibat pada pelaksanaan EBNP ini adalah 14 orang. Pada pelaksanaan EBNP ini telah dilakukan skirining Diabetic Sensorimotori Polineuropathy (DSPN) dengan menggunakan instrumen mTSN (Modified Toronto Clinic Score Neuropathy) yang bertujuan untuk menilai ada gejala neuropati dan tidak ada gejala neuropati. Skrining DSPN dilakukan berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP). Berdasarkan hasil kedua uji intrumen antara mTCSN dengan mNSI-E menggunakan uji undercurve, maka dapat disimpulkan, instrumen mTCSN memiliki nilai sensitivitas yang lebih tinggi dengan nilai 0.909, sedangkan nilai sensitivitas pada instrumen mNSI-E lebih kecil dari instrumen mTCSN dengan nilai 0.571. Maka, untuk melakukan skrining neuropathylebih efektif digunakan instrumen mTCSN karena skor sensitivitasnya lebih tinggi. Kata Kunci: Diabetes Mellitus, Skrining, Polyneurophaty, DSPN