This study examines child grooming as a socially embedded phenomenon shaped by everyday relational practices rather than solely as an individual criminal act. The research was conducted in response to the limited scholarly attention given to how child socialization patterns, particularly those related to trust, emotional closeness, and adult authority, may unintentionally create conditions that facilitate grooming practices. Using a qualitative interpretive phenomenological approach, the study analyzed secondary digital data collected through netnographic methods, including online news reports, investigative publications, and child protection narratives. The findings reveal that grooming risks frequently emerge within socially accepted relationships characterized by familiarity, emotional attachment, and perceived moral legitimacy. Four interconnected themes were identified: trust-based child socialization, normalization of adult and child closeness, ambiguity of social authority, and limited public awareness of grooming processes. The study concludes that social norms intended to protect children may simultaneously obscure early warning signs of exploitation. However, the reliance on secondary digital narratives limits access to direct experiential perspectives and restricts broader generalization. Penelitian ini mengkaji child grooming sebagai fenomena sosial yang tertanam dalam praktik relasional sehari hari, bukan semata mata sebagai tindakan kriminal individual. Penelitian dilakukan karena masih terbatasnya perhatian akademik terhadap pola sosialisasi anak, khususnya yang berkaitan dengan kepercayaan, kedekatan emosional, dan otoritas orang dewasa, yang secara tidak langsung dapat menciptakan kondisi yang mempermudah terjadinya grooming. Penelitian menggunakan pendekatan fenomenologi interpretatif kualitatif dengan memanfaatkan data sekunder digital yang dikumpulkan melalui metode netnografi, meliputi berita daring, laporan investigatif, dan narasi perlindungan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko grooming sering muncul dalam hubungan sosial yang dianggap wajar dan aman karena dibangun melalui kedekatan, keterikatan emosional, dan legitimasi moral. Penelitian ini mengidentifikasi empat tema utama, yaitu sosialisasi anak berbasis kepercayaan, normalisasi kedekatan antara anak dan orang dewasa, ambiguitas otoritas sosial, serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap proses grooming. Penelitian menyimpulkan bahwa norma sosial yang bertujuan melindungi anak dapat sekaligus menyamarkan tanda awal eksploitasi. Meskipun demikian, penggunaan narasi digital sekunder membatasi akses terhadap pengalaman langsung partisipan dan membatasi generalisasi temuan penelitian.