Herman Zuhdi
Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Community-Based Social Learning in Religious Transformation: A Study of the Wetu Telu–Waktu Lima Transition in Lombok, Indonesia Herman Zuhdi; Febi Laeli Putri
Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/jupsi.v4i1.416

Abstract

The transition from Wetu Telu to Waktu Lima among the Sasak community in Lombok reflects a significant process of religious and social transformation involving changes in religious practices, knowledge systems, and cultural identities. This study investigates the role of community-based social learning in shaping and facilitating this transformation. A qualitative case study approach was employed in North Lombok using in-depth interviews, observation, document analysis, and oral history. Data were analyzed through thematic analysis to identify patterns of learning, interaction, and adaptation within the community. The findings indicate that Wetu Telu functioned as a traditional social learning system through which religious and cultural values were transmitted across generations. The transition toward Waktu Lima was supported by religious leaders, families, Islamic educational institutions, and community organizations through processes of observation, participation, dialogue, and social interaction. These mechanisms enabled the community to adopt new religious orientations while maintaining important elements of local cultural identity. The study highlights community-based social learning as a key mechanism in religious transformation.Transisi dari Wetu Telu menuju Waktu Lima pada masyarakat Sasak di Lombok merupakan proses transformasi sosial dan keagamaan yang ditandai oleh perubahan praktik keagamaan, sistem pengetahuan, dan identitas budaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran pembelajaran sosial berbasis komunitas dalam mendorong dan memfasilitasi proses transformasi tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif yang dilakukan di Lombok Utara melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan sejarah lisan. Data dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola pembelajaran, interaksi, dan adaptasi yang berkembang dalam komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Wetu Telu berfungsi sebagai sistem pembelajaran sosial tradisional yang mentransmisikan nilai-nilai keagamaan dan budaya antargenerasi. Transisi menuju Waktu Lima didukung oleh tokoh agama, keluarga, lembaga pendidikan Islam, dan organisasi masyarakat melalui proses observasi, partisipasi, dialog, dan interaksi sosial. Mekanisme tersebut memungkinkan masyarakat mengadopsi orientasi keagamaan baru tanpa kehilangan unsur-unsur penting identitas budaya lokal. Penelitian ini menegaskan pentingnya pembelajaran sosial berbasis komunitas dalam menjelaskan transformasi keagamaan
Makna Budaya Hizib Nahdlatul Wathan dalam Tradisi Keagamaan Masyarakat Lombok: Kajian Hermeneutika Sufistik Herman Zuhdi; M Zainul Hafizi
Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya Vol. 4 No. 3 (2026): Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/nagripustaka.v4i3.426

Abstract

Hizib Nahdlatul Wathan merupakan salah satu tradisi keagamaan yang tidak hanya berfungsi sebagai praktik spiritual, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Lombok yang merepresentasikan nilai-nilai sosial dan religius. Penelitian ini bertujuan menganalisis makna budaya yang terkandung dalam Hizib Nahdlatul Wathan, mengidentifikasi struktur budaya yang membentuk tradisi tersebut, serta menjelaskan mekanisme pewarisan nilai budaya dalam kehidupan masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian kepustakaan yang dipadukan dengan analisis isi dan hermeneutika sufistik. Data utama bersumber dari naskah Hizib Nahdlatul Wathan, sedangkan data pendukung diperoleh dari berbagai literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hizib Nahdlatul Wathan memiliki struktur budaya yang tersusun secara sistematis melalui rangkaian bacaan yang terstandarisasi, memuat nilai-nilai religiusitas, penghormatan kepada guru, solidaritas sosial, kebersamaan, dan identitas budaya, serta berfungsi sebagai media pewarisan budaya melalui pesantren, keluarga, masjid, majelis taklim, dan organisasi Nahdlatul Wathan. Temuan ini memperlihatkan bahwa Hizib Nahdlatul Wathan tidak hanya menjadi praktik ibadah, tetapi juga berperan sebagai media pelestarian budaya religius dan pembentukan identitas kolektif masyarakat. Keterbatasan penelitian ini terletak pada penggunaan pendekatan kepustakaan sehingga belum menggambarkan praktik Hizib secara langsung di lapangan. Hizib Nahdlatul Wathan is a religious tradition that functions not only as a spiritual practice but also as a form of cultural heritage representing the social and religious values of the Lombok community. This study aims to examine the cultural meanings embedded in Hizib Nahdlatul Wathan, identify the cultural structure underlying the tradition, and explain the mechanism through which cultural values are transmitted within the community. A qualitative library research design was employed by integrating content analysis with a Sufistic hermeneutic approach. The primary data consisted of the Hizib Nahdlatul Wathan manuscript, while supporting data were obtained from relevant scholarly literature. The findings reveal that Hizib Nahdlatul Wathan possesses a systematic cultural structure through standardized liturgical sequences, embodies the values of religiosity, respect for teachers, social solidarity, togetherness, and cultural identity, and functions as a medium for cultural transmission through Islamic boarding schools, families, mosques, religious study circles, and the Nahdlatul Wathan organization. These findings demonstrate that Hizib Nahdlatul Wathan serves not only as a devotional practice but also as a medium for preserving religious culture and strengthening collective identity. The study is limited by its library-based design, which does not directly observe ritual practices in the field