Jullyo Gideon Rohi
Agribusiness Study Program, Faculty of Agriculture, Universitas Nusa Cendana, Jl. Adisucipto, Kupang, East Nusa Tenggara, 85001, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

BENTUK TRANSAKSI BARTER DI PASAR TRADISIONAL WULANDONI KECAMATAN WULANDONI KABUPATEN LEMBATA Santhy Chamdra; Jullyo Gideon Rohi
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 13 No. 2 (2025): Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22500/13202569080

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi sistem pasar barter tradisional di Wulandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, tempat para petani pedalaman bertukar hasil pertanian dengan hasil laut nelayan pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji mekanisme sosial-ekonomi dan budaya pasar barter ini, yang terus beroperasi di tengah sistem pasar modern. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara terstruktur, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terfokus. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa pasar barter tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar ekonomi tetapi juga sebagai tradisi budaya sakral yang mencerminkan saling ketergantungan antara masyarakat pedalaman dan pesisir. Transaksi dibentuk oleh ikatan kekerabatan, kepercayaan, dan keyakinan bersama, dengan nilai-nilai yang disepakati berdasarkan keadilan dan saling menghormati. Meskipun pertukaran moneter secara bertahap memasuki sistem, terutama setelah Wulandoni menjadi pusat kecamatan yang padat penduduk, barter tetap menjadi praktik inti karena signifikansi budayanya. Pasar ini mencerminkan ekonomi subsisten, yang berakar kuat pada kearifan lokal dan teknologi tradisional. Studi ini menyimpulkan bahwa meskipun sistem barter menandakan keterbelakangan ekonomi, sistem ini juga mencerminkan identitas budaya yang kuat. Transformasi pasar tradisional ini menjadi situs wisata budaya membutuhkan pelestarian nilai-nilai lokal dan kearifan lokal yang cermat.