Pendahuluan: Selama pandemi COVID-19, praktik pemberian ASI eksklusif mengalami penurunan dan menghadapi berbagai tantangan, hal ini akan meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada balita usia 6-24 bulan. Prevalensi ASI eksklusif tercatat hanya sekitar 58,3%, sementara inisiasi menyusu dini sebesar 57,8%. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif menjadi asupan penting untuk tumbuh kembang bayi. Balita berusia 6 -24 bulan merupakan kelompok rawan gizi. Dampak dari tidak diberikanya asi eklusif pada bayi yaitu bayi dapat mengalami malnutrisi, wasting, stunting, rentan mengalami penyakit infeksi dan juga gangguan kesehatan pencernaan. Metodologi: Penelitian ini menerapkan desain penelitian retrospektif. Sampel penelitian ini yaitu ibu yang mempunyai bayi usia 6-24 bulan sebanyak 29 orang. Teknik pengambilan sampel dengan teknik proporsionate stratified random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner pemberian asi eksklusif dan lembar pengukuran status gizi. Analisis data dengan uji Chi Square. Hasil: Hasil uji Chi-square menunjukkan nilai signifikansi p = 0,000 (α < 0,05), sehingga H₀ ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif dengan status gizi bayi usia 6–24 bulan, dimana bayi yang mendapatkan ASI eksklusif cenderung memiliki status gizi lebih baik dibandingkan bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif.”. Diskusi: penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang kuat dan signifikan antara pemberian ASI eksklusif dan status gizi, artinya, semakin baik penerapan ASI eksklusif, semakin baik pula status gizi bayi. Kata Kunci : ASI Eksklusif, status gizi balita