Zulvana
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Pamenang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN PAPARAN CYBERBULLYING DENGAN RESIKO KRISIS KESEHATAN MENTAL PADA REMAJA DI POSYANDU REMAJA GEMILANG PARE Didik Susetiyanto Atmojo; Zulvana; Arif Sofan Tohir
coba Vol 14 No 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32831/jik.v14i2.980

Abstract

Latar Belakang: Cyberbullying merupakan bentuk perundungan digital yang semakin meningkat pada remaja dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, stres, depresi, hingga krisis kesehatan mental. Remaja di komunitas pedesaan masih memiliki keterbatasan literasi digital dan dukungan psikososial sehingga rentan mengalami dampak tersebut. Tujuan: Menganalisis hubungan paparan cyberbullying dengan risiko krisis kesehatan mental pada remaja di ILP Remaja Desa Pelem Kecamatan Pare. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional dilakukan pada 30 remaja yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner paparan cyberbullying dan risiko kesehatan mental yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil: Sebanyak 46,7% responden mengalami paparan cyberbullying kategori sedang dan 50% memiliki risiko kesehatan mental kategori sedang. Hasil uji Spearman menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara paparan cyberbullying dan risiko krisis kesehatan mental (r=0,624; p=0,001).. Kesimpulan: Terdapat pengaruh signifikan antara paparan cyberbullying dan risiko krisis kesehatan mental pada remaja. Upaya pencegahan serta intervensi berbasis komunitas, termasuk pendidikan digital dan dukungan oleh kader remaja, sangat diperlukan untuk mengurangi dampak buruk cyberbullying pada kesehatan mental remaja. Kata kunci: cyberbullying; kesehatan mental remaja; krisis mental; remaja; keperawatan komunitas
PENGELOLAAN KECERDASAN EMOSIONAL SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN PHUBBING & SMOMBIE PADA SISWA SEKOLAH DASAR (PRA-REMAJA USIA 10-12 TAHUN) DI MI MUHAMMADIYAH 1 PARE-KEDIRI: EMOTIONAL INTELLIGENCE MANAGEMENT AS AN EFFORTS TO PREVENT PHUBBING & SMOMBIE IN ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS (PRE-TEENS AGED 10-12 YEARS) AT MI MUHAMMADIYAH 1 PARE-KEDIRI Iva Milia Hani Rahmawati; Zulvana; Fresty Africia; Asrina Pitayanti
Jurnal Abdimas Pamenang Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Abdimas Pamenang - JAP
Publisher : STIKES Pamenang Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jap.v4i2.469

Abstract

Pendahuluan : Di era digital ini, remaja rentan terhadap perilaku phubbing (mengabaikan orang lain demi ponsel) dan menjadi smombie (berjalan tanpa memperhatikan sekitar karena fokus pada ponsel). Phubbing dapat membuat seseorang tidak dapat mengontrol emosinya. Perilaku ini merusak hubungan sosial, mengurangi interaksi tatap muka, dan meningkatkan risiko kecelakaan. Rendahnya kecerdasan emosional dianatranya (Mengenali dan memahami emosi diri sendiri, memotivasi, dan membangun hubungan sosial yg sehat) diduga menjadi salah satu faktor penyebabnya, karena remaja kesulitan mengelola perasaan dan berempati terhadap orang lain. Tujuan : Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pengelolaan kecerdasan emosional sebagai upaya pencegahan phubbing & smombie pada siswa sekolah dasar (pra-remaja usia 10-12) di MI Muhammadiyah 1 Pare-Kediri. Metode : metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah pendekatan partisipatif, dengan melibatkan siswa kelas 3, 4 dan 5 dalam pelaksanaan program pengelolaan kecerdasan emosional sebagai upaya pencegahan phubbing dan smombie. Hasil : Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan. Sebelum diberikan edukasi dan latihan pengelolaan kecerdasan emosional,  pengelolaan kecerdasan emosional pada siswa kelas 3, 4 dan 5 adalah (25%). Sedangkan setelah diberikan edukasi dan pelatihan tentang pengelolaan kecerdasan emosional sebagai upaya pencegahan pubbing & smombie meningkat sejumlah (70%). Hal ini mengindikasikan bahwa edukasi dan pelatihan pengelolaan kecerdasan emosional yang diberikan efektif dalam pengelolaan kecerdasan emosional dan pencegahan perilaku pubbing dan smombie di MI Muhammadiyah 1 Pare-kediri. Kesimpulan : Pengelolaan kecerdasan emosional terbukti efektif sebagai upaya pencegahan pubbing dan smombie. Saran : Disarankan untuk mengembangkan program edukasi dan pelatihan serupa dengan cakupan yang lebih luas dan metode yang lebih variatif. Abstract Introduction: In this digital era, adolescents are vulnerable to "phubbing" (ignoring others in favor of a mobile phone) and becoming "smombies" (walking without paying attention to surroundings due to phone focus). Phubbing can impair emotional control. Such behavior damages social relationships, reduces face-to-face interaction, and increases accident risks. Low emotional intelligence—specifically regarding recognizing and understanding one's own emotions, self-motivation, and building healthy social relationships—is suspected to be a contributing factor, as adolescents struggle to manage feelings and empathize with others. Objective: This community service initiative aimed to analyze the effectiveness of emotional intelligence management in preventing phubbing and smombie behaviors among elementary school students (pre-adolescents aged 10–12) at MI Muhammadiyah 1 Pare-Kediri. Method: A participatory approach was employed, involving students from grades 3, 4, and 5 in a program designed to foster emotional intelligence as a preventive measure against phubbing and smombie behaviors. Results: Significant improvements were observed. Prior to the education and training on emotional intelligence, the level of emotional intelligence among students in grades 3, 4, and 5 stood at 25%. Following the intervention—which focused on emotional intelligence to prevent phubbing and smombie behaviors—this figure rose to 70%. These results indicate that the provided education and training were effective in fostering emotional intelligence and preventing phubbing and smombie behaviors at MI Muhammadiyah 1 Pare-Kediri. Conclusion: Emotional intelligence management proved effective as a preventive measure against phubbing and smombie behaviors. Recommendation: It is recommended to develop similar education and training programs with a broader scope and more varied methods