Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi PT Vale Indonesia Tbk dalam pemberitaan media lokal, mengungkap relasi kuasa antara korporasi, negara, masyarakat, dan lingkungan, serta menjelaskan praktik wacana yang membentuk legitimasi korporasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough yang mencakup tiga dimensi analisis, yaitu teks, praktik wacana, dan praktik sosial-budaya. Data penelitian berupa tujuh berita dari FAJAR Sulsel dan Tribun Timur yang membahas isu kepatuhan operasional, hilirisasi, pemberdayaan masyarakat, pemekaran wilayah, dan kebocoran pipa minyak di Towuti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media secara dominan merepresentasikan PT Vale sebagai korporasi yang patuh secara hukum, strategis dalam agenda hilirisasi nasional, aktif dalam pembangunan sosial, dan bertanggung jawab dalam penanganan isu lingkungan. Representasi ini dibangun melalui kosakata legalitas, keberlanjutan, kepastian operasional, pemberdayaan, dan transparansi. Namun, dominasi wacana tersebut tidak sepenuhnya tanpa resistensi. Dalam kasus kebocoran pipa minyak di Towuti, muncul narasi tandingan dari masyarakat yang menegaskan pengalaman ekologis langsung, kecemasan publik, dan kritik terhadap respons awal perusahaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media lokal tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai arena produksi makna yang mereproduksi sekaligus menegosiasikan hegemoni korporasi di tengah agenda pembangunan, hilirisasi, dan tuntutan akuntabilitas ekologis.