Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Kajian Etnomusikologi Heringu Kanigi Sebagai Nyanyian Tanam Dan Panen Suku Wewewa Di Sumba Barat Daya Agnes Emalisa Bauana; Friska Trianni Inna
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.661

Abstract

Penelitian ini mengkaji tradisi Heringu Kanigi, nyanyian tanam dan panen yang hidup dalam praktik agraris Suku Wewewa, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Sebagai warisan budaya yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi, tradisi ini menyimpan kekayaan makna yang melampaui fungsinya sebagai nyanyian kerja semata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fungsi dan peran musik vokal dalam tradisi Heringu Kanigi secara musikal, sekaligus menelaah bagaimana tradisi ini menjadi dimensi penting dalam sistem kepercayaan dan nilai budaya masyarakat Sumba. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode etnografi yang meliputi observasi partisipatif, wawancara semiterstruktur, dan dokumentasi lapangan. Analisis dilakukan menggunakan teori etnomusikologi Alan P. Merriam dan teori Tujuh Dimensi Agama Ninian Smart sebagai kerangka kerja utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Heringu Kanigi disajikan secara responsorial dengan ritme yang stabil, di mana irama nyanyian sekaligus berfungsi sebagai pengatur gerak tubuh para petani saat bekerja di sawah. Tradisi ini berperan sebagai media hiburan, pembangun semangat kolektif, dan perekat sosial melalui syair yang mengandung humor, sindiran ringan, dan ungkapan rasa syukur. Di sisi lain, Heringu Kanigi memuat nilai spiritual yang mendalam sebagai bagian dari sistem kepercayaan Marapu yang memandang manusia, alam, dan leluhur sebagai satu kesatuan yang harmonis. Meskipun tidak secara langsung dipersembahkan sebagai ritual kepada Marapu, tradisi ini menjadi bentuk penghormatan tidak langsung kepada leluhur melalui pelestarian warisan yang mereka tinggalkan. Namun, sejak tahun 2000-an praktik ini semakin jarang dilakukan akibat perubahan gaya hidup dan lemahnya pewarisan budaya kepada generasi muda.