Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PLTN Beriga-Gelasa Sebagai Jalan Keluar Transisi Energi: Kritik Berbasis Bukti Terhadap Penolakan Absolut Dan Model Pembangunan Nuklir Berkeadilan Hosea Alfandi Irawan
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.906

Abstract

Perdebatan mengenai rencana Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di kawasan Beriga-Gelasa sering terjebak pada polarisasi antara dukungan teknokratis dan penolakan absolut. Artikel ini bertujuan menyusun argumen berbasis bukti bahwa energi nuklir layak dipertahankan sebagai opsi strategis transisi energi Bangka Belitung apabila dibangun melalui tata kelola keselamatan, keadilan ruang, dan manfaat lokal yang mengikat. Penelitian menggunakan studi pustaka dan analisis kebijakan dengan menelaah literatur tentang energy trilemma, just transition, risk governance, social acceptance, dan political economy of energy. Hasil kajian menunjukkan bahwa penolakan absolut terhadap nuklir cenderung lemah bila tidak menyajikan alternatif rendah karbon yang stabil, terjangkau, dan layak secara ruang bagi wilayah kepulauan. Namun, dukungan terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir juga tidak boleh bersifat tanpa syarat karena tapak pesisir memuat ruang kerja, identitas sosial, dan sumber ekonomi nelayan. Artikel ini menawarkan model Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir pro-rakyat berbasis bukti melalui audit tapak terbuka, pemetaan partisipatif ruang hidup nelayan, analisis dampak lingkungan yang substantif, perjanjian manfaat komunitas, monitoring independen, dan klausul penghentian bila indikator keselamatan serta keadilan tidak terpenuhi. Kesimpulannya, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Beriga-Gelasa dapat menjadi instrumen transisi energi dan pembangunan pesisir apabila kelayakan teknologi dikunci oleh akuntabilitas sosial-ekologis.
Politik Prefiguratif dalam Tata Kelola Energi Terbarukan Komunitas: Indonesia Hosea Alfandi Irawan
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.1067

Abstract

Artikel ini menganalisis tata kelola energi terbarukan komunitas melalui teori politik prefiguratif. Masalah utama yang dibahas adalah lambatnya transisi energi daerah akibat ketergantungan pada energi fosil, perencanaan yang sentralistis, rendahnya kepemilikan warga, dan terbatasnya eksperimen kelembagaan di tingkat lokal. Tujuan artikel ini adalah menjelaskan relevansi politik prefiguratif bagi kebijakan energi daerah dan merumuskan model kebijakan publik partisipatoris untuk energi terbarukan berbasis komunitas. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka kualitatif dengan sintesis tematik terhadap artikel jurnal sepuluh tahun terakhir dan dokumen kebijakan energi Indonesia. Literatur dipilih berdasarkan keterkaitan dengan politik prefiguratif, demokrasi energi, energi komunitas, transisi energi Indonesia, dan kebijakan publik daerah. Hasil kajian menunjukkan bahwa politik prefiguratif dapat mengubah energi terbarukan dari proyek teknokratik menjadi praktik demokratis yang menghadirkan tujuan transisi dalam proses saat ini. Prinsip utamanya meliputi konsistensi antara cara dan tujuan, horizontalitas, kepemilikan komunitas, transparansi data, dan pembelajaran kelembagaan. Model kebijakan yang diajukan terdiri atas forum energi lokal, studi kelayakan sosial-teknis partisipatoris, koperasi atau dana manfaat komunitas, pelatihan tenaga lokal, audit sosial, dan evaluasi berbasis data. Model tersebut memberi perangkat awal bagi pemerintah daerah untuk menghubungkan target energi nasional dengan kebutuhan sosial warga. Artikel ini menyimpulkan bahwa transisi energi daerah membutuhkan teknologi rendah karbon sekaligus relasi politik baru antara pemerintah, warga, PLN, komunitas, dan aktor pasar.